Draf ensiklik Paus Fransiskus mengenai lingkungan hidup dibocorkan ke majalah Italia L’Espresso dan dipublikasikan secara online di website majalah tersebut Senin, 15 Juni 2015 lalu. Pembocoran ini disesalkan Vatikan karena ensiklik berjudul “Laudato Si” itu baru dirilis secara resmi di Vatikan Kamis, 18 Juni 2015. Sebelum Kamis, dokumen itu tidak diperkenankan untuk dipublikasikan.

Dalam pernyataannya, juru bicara Vatikan Frederico Lombardi menyebut publikasi tidak sah draf setebal 192 halaman itu sebagai perbuatan tercela. Lombardi juga menegaskan, draf yang dibocorkan itu bukan merupakan versi final ensiklik Paus Fransiskus.

Menurut dugaan sejumlah pengamat, pembocoran itu dilakukan orang dalam Vatikan, dari kalangan konservatif yang frustasi dengan kepemimpinan Paus Fransiskus. Sebuah dugaan yang bukan tanpa dasar mengingat adanya resistensi kubu konservatif terhadap arah dan kebijakan Paus Fransiskus terkait sejumlah isu penting yang dihadapi gereja dewasa ini.

Dugaan itu diperkuat Sandro Magister, mantan komentator Vatikan dan seorang Katolik konservatif yang memberi pengantar pada publikasi draf ensiklik di L’Espresso. Menurut pengakuan pengeritik keras Paus Fransiskus ini, draf “Laudato Si” diperoleh L’Espresso dari sumber anonim di Kuria Roma (Birokrasi Vatikan).

Menurut pengamat, bocornya draf ensiklik Paus Fransiskus merefleksikan ketegangan yang terus berlangsung di internal Vatikan, di mana beberapa anggota Kuria menentang agenda reformasi gereja, reformasi Vatikan khususnya, yang tengah diupayakan Paus Fransiskus. Pembocoran itu merupakan satu cara untuk menunjukkan bahwa Vatikan masih disfungsional dalam hal-hal tertentu, sekaligus untuk menjatuhkan kredibilitas dan pengaruh Paus Fransiskus sebagai seorang reformis.

Sebagaimana diperlihatkan draft tersebut, Paus Fransiskus memulai ensikliknya dengan “Kidung Sang Surya”, himne Santo Fransiskus dari Asisi, biarawan abad ke-13 yang mendedikasikan hidupnya untuk kaum miskin dan yang ditetapkan Gereja Katolik sebagai santo pelindung lingkungan.

Selain menyatakan niat berdialog dengan siapapun menyangkut “rumah bersama kita” serta menyerukan tindakan segera untuk menghentikan perubahan iklim, Paus Fransiskus juga mengutip bukti-bukti ilmiah mengenai peran manusia yang telah menyebabkan terjadinya pemanasan global.

Ia juga kembali mengulang beberapa tema yang telah diserukannya selama ini, antara lain seruan untuk menjauhi pola hidup konsumtif yang menghabiskan sumber daya dan merugikan kaum miskin. Selain itu, ia menyerukan pemerintah berbagai negara agar dapat bekerja sama mengupayakan solusi masalah lingkungan hidup di tingkat global, nasional, maupun lokal, sementara pada saat yang sama memusatkan perhatian pada hal-hal spesifik, seperti oposisi terhadap kredit karbon.

Ensiklik para paus sering gagal mendapat perhatian luas di luar gereja. Ensiklik Laudato Si sebaliknya. Peluncuran dokumen tentang lingkungan hidup dan juga kaum miskin itu telah ditunggu sebagai sebuah peristiwa besar dan penting oleh banyak kalangan, lebih-lebih kalangan ilmuwan dan pegiat lingkungan hidup. Ensiklik ini tidak hanya ditunggu oleh mereka yang sepaham, tapi juga yang berbeda paham dan bahkan yang berseberang paham dengan Paus Fransiskus.***

Sumber: CruxnowNYTimes, Telegraph