Anders Behring Breivik, pelaku serangan teror di Norwegia tahun 2011, diterima Universitas Oslo, Norwegia untuk mengikuti program studi ilmu politik. Program ini mencakup materi tentang demokrasi dan keadilan, pluralisme dan penghormatan terhadap HAM, penghormatan terhadap minoritas dan kebebasan fundamental.

Izin studi itu diterima Breivik Jumat (17/07/2015) lalu setelah ia memenuhi sejumlah persyaratan yang diberlakukan universitas ternama dan tertua Norwegia itu.

Pada tahun 2013 aplikasinya ditolak karena tidak memenuhi sejumlah persyaratan yang berlaku. Untuk memenuhi persyaratan, ia lalu menjalani beberapa kursus di penjara.

Breivik akan menjalani studi dari dalam selnya di penjara karena, mengacu pada aturan penjara Norwegia, Breivik tidak diperkenankan datang ke kampus dan mengikuti studi bersama mahasiswa lain.

Di penjara ia bisa mengakses buku-buku untuk keperluan studinya, tetapi tidak diperkenankan mengakses internet. Ia juga tidak diperkenankan mengadakan kontak langsung dengan para profesor yang menjadi pengajarnya. Komunikasi Breivik dengan para pengajar terkait studinya akan diperantarai petugas penjara.

Pada bulan Juli 2011 silam Anders Breivik, yang memiliki pandangan politik ekstrim kanan dan antimultikulturalisme, meledakkan bom di samping kantor pemerintah di Kota Oslo dan menewaskan delapan orang. Setelah itu ia melakukan penembakan terhadap peserta kemah pemuda, acara Partai Buruh yang sedang berkuasa saat itu, di Pulau Utoya, Norwegia dan menewaskan 69 orang.

Dalam pengadilan, tanpa rasa bersalah Breivik mengakui dirinya sebagai pelaku kejahatan di dua tempat itu. Ia pun mengemukakan alasan di balik aksinya, yakni pembelaan terhadap rakyat dan negaranya dari ancaman multikulturalisme. Ia menganggap pidana penjara bukan masalah karena hidup di Norwegia yang diperintah para multikulturalis sudah merupakan penjara baginya.

Atas kejahatannya Breivik dijatuhi hukuman maksimal 21 tahun penjara oleh pengadilan Norwegia. Hukuman ini bisa diperpanjang jika ia dinilai tetap berbahaya bagi masyarakat Norwegia.

Terkait pengabulan permohonan studi Breivik, Rektor Universitas Oslo, Ole Petter Ottersen, menyampaikan bahwa semua tahanan di penjara Norwegia memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Norwegia selama mereka memenuhi persyaratan yang berlaku dan berhasil dalam persaingan dengan para pemohon lain.

Ottersen juga mengemukakan bahwa pengabulan permohonan Breivik untuk mengikuti studi di Universitas Oslo merupakan bagian dari misi universitas itu untuk menegakkan nilai-nilai demokrasi, cita-cita maupun praktek, juga ketika nilai-nilai ini ditantang oleh tindakan-tindakan keji, seperti yang telah dilakukan Breivik.***

Sumber: BBCGuardianTimeWashington Post