Connect with us
Franz Magnis Suseno

Komentar

Eggi Sudjana, Magnis Suseno, dan Sokrates

Polemik antara Romo Magnis Suseno dengan Eggi Sudjana telah menyita perhatian banyak orang. Mahaguru filsafat itu mengomentari pendapat Eggi yang mengatakan agama selain Islam bertentangan dengan Pancasila.

Menurut Romo Magnis, pendapat Eggi itu bodoh karena: (1) tidak memahami sejarah lahirnya Pancasila sebagai sebuah konsensus politik (khususnya sila pertama) yang mengakomodir agama dan kepercayaan; dan (2) mengomentari teologi agama lain yang sama sekali tidak dipahami.

Eggi tersinggung dengan pernyataan Romo Magnis dan melaporkan Romo Magnis ke pihak berwajib. Namun, guru besar filsafat dari STF Driyarkara itu tidak gentar sama sekali dan tidak menarik komentarnya. Ia yakin bahwa pernyataannya itu benar secara objektif dan logis. Karena itu, ia tenang menghadapi gonggongan Eggi itu.

Ada yang menarik dari sikap Romo Magnis. Pertama, ia yakin Indonesia yang majemuk merupakan sebuah keniscayaan dan Pancasila mengakomodir hal itu. Menyangkali hal itu dengan klaim sepihak adalah sebuah kebodohan yang menggelikan.

Kedua, Romo Magnis hendak mengatakan agar jangan sok tau dan tak tahu diri untuk sesuatu yang tidak diketahui dengan pasti karena itu merupakan kesombongan yang serius. Pesan moralnya: kenalilah dirimu sendiri dan jangan berlebihan.

Bagi saya, dengan melapor Romo Magnis ke pihak berwajib, Eggi sedang memamerkan dan menegaskan kebodohannya sendiri karena tidak mampu mempertanggungjawabkan pernyataannya yang ngawur itu.

Tanpa bermaksud menyamaratakan polemik di atas dengan kisah pengadilan Sokrates, saya kira, sikap Romo Magnis mewarisi keteguhan hati Sokrates, filsuf bersahaja dari jaman Yunani Kuno yang membidani lahirnya para pemikir dan pemikiran kritis. Sebagaimana ditulis dalam sejarah filsafat, Sokrates mempertahankan argumentasinya dari orang-orang sok tau yang terganggu kepentingannya karena pernyataan-pernyataan kritis Sokrates.

Sokrates menjelaskan filsafatnya dengan jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada lawan bicara. Jawaban lawan bicara dipersoalkan Sokrates sedemikian rupa dengan maksud menunjuk kelemahan logika mereka yang pada gilirannya merombak seluruh bangunan argumentasi mereka.

Cara Sokrates itu dikenal dengan nama metode elenchus. Metode itu dipakai agar orang dapat menatap kebenaran tertinggi. Metode Sokrates itu tidak jarang membuat lawan bicaranya merasa terhina dan dipermalukan karena seluruh bangunan argumentasi mereka runtuh di hadapan Sokrates.

Dari catatan Plato, murid Sokrates, kita tahu bagaimana hidup Sokrates berakhir: ia dihukum mati dengan cara meminum racun. Ia dianggap sebagai musuh bersama yang merusak generasi muda dengan ajaran sesat. Ia menjadi ancaman bagi kepentingan sebagian orang. Lantas, hukuman untuk itu adalah kematian.

Sokrates

Sokrates dihukum mati dengan cara minum racun. Foto: Wikimedia

Meski dibujuk melarikan diri oleh murid-muridnya, Sokrates menolak karena baginya kematiannya adalah sebuah jalan yang harus ditempuh demi mempertahankan kebenaran yang diyakininya. Ia mati sebagai martir kebenaran.

Romo Magnis Suseno mungkin akan dibenci dan dicaci maki sebagian orang yang sok tau dan yang terganggu kepentingannya. Akan tetapi, saya yakin, Romo Magnis tak terusik dengan hal itu. Ia akan tetap hadir sebagai pembela kebenaran. Ia akan terus setia mewartakan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Komentar