Connect with us
Soekarno

Komentar

G30S/PKI, Sejarahnya Penguasa

Ada satu siang di Kimentur yang biasa saja. Siang yang melebarkan cakrawala beta melihat sejarah. Seorang doktor Universitas Negeri Manado, Sulawesi Utara, berbaik hati menyisihkan waktu untuk berbagi dengan kami yang mengadu ilmu di kaki Gunung Lokon, suatu lokasi pertapaan antik yang berdiri sejak 1928.

Sebatang Surya 16 yang terhimpit di jemari tangan kanan, bergegas dimatikan baranya lalu dibuang ke tempat sampah, sebelum sejarahwan ‘cerewet’ itu memasuki ruang kelas. Orangtua ini memang punya selerah.

“Sorry, kita nyanda bisa mengajar kalo nda baroko,” (Sorry, saya tidak bisa mengajar kalau tidak sambil merokok) kalau ingatan beta tidak keliru, itu kalimat pertama beliau kepada kami sebelum memberi salam. Mungkin beberapa murid di kelas pernah bertemu dengan beliau sebelumnya. Tapi beta, itu pertemuan pertama.

Setelah berkenalan, beliau menegaskan beberapa hal penting tentang kelasnya nanti. Seluruh materi sejarah pasca kemerdekaan yang ada dalam buku-buku bacaan sekolah tidak akan dia ajarkan. Dia menyarankan kami mempersiapkan materi-materi tersebut dengan guru sejarah yang memang bertugas mempersiapkan kami menghadapi Ujian Akhir Nasional.

Waktu itu, kami memang secara rutin dikunjungi beberapa alumni yang memberikan kelas ekstra, untuk beberapa pelajaran yang ada dalam kurikulum sekolah. Kelas ini dimaksudkan untuk memperkuat kelas utama yang berjalan normal setiap hari.

Sang doktor bergegas mengambil kapur dan menarik dua garis horisontal panjang di bidang papan hitam berukuran kurang lebih 5m2. Satu garis di bagian atas, satu garis di bagian bawah, persis dari ujung ke ujung tanpa sisa.

“Garis atas adalah sejarah internasional. Garis bawah, sejarah nasional. Apa yang terjadi di garis atas, ada hubungannya dengan apa yang terjadi di garis bawah, begitu pula sebaliknya. Mari kita lihat,” kelas baru saja dia mulai.

Seingat beta kami tidak mulai dari zaman pra sejarah atau sejarah peradaban awal masehi. Kalau tidak keliru kelas dimulai dari Perang Dunia I. Beberapa kali beliau menarik pembahasan jauh ke belakang untuk memberikan konteks pada periode yang ada dalam garis panjang, seperti peristiwa revolusi industri, dan lain-lain.

Cerita demi cerita, tibalah kami di tahun-tahun awal setelah proklamasi. Kali ini saya otomatis menutup semua buku bacaan sejarah di atas meja, dan mulai terpaku mengikuti penuturan beliau. Dia mengurai detail beberapa sejarah pemberontakan di daerah-daerah yang ditelitinya selama masa studi hingga aktif mengajar di kampus.

Kelas semakin serius ketika kami memasuki babak sejarah Orde Lama, padahal sampai di situ kami sebenarnya tidak lagi dalam situasi formal kelas. Suasana terasa seperti ruang bercerita. Beliau menceritakan beberapa titik sejarah Orla seperti pembubaran DPR oleh presiden, pembagian negara bagian, kelahiran NASAKOM dan cerita di balik layar teror terhadap presiden pertama RI.

Kami juga dituturkan cerita tentang hubungan internasional Indonesia yang luar biasa dengan negeri tetangga maupun negeri-negeri besar seperti Rusia, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Sekejap semua terdiam ketika sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul. “Siapa yang belum pernah menonton film pemberontakan PKI?” Tidak ada yang mengacungkan jari.

Beta sendiri merasa ngeri ketika ditanya begitu. Isi film itu meluncur perlahan kembali ke dalam kepala. Nampaknya partai dan ideologi tersebut sangat berbahaya. Terlarang! Sampai cerita lain muncul, selanjutnya.

***

Sebuah angle baru (bagi kami) tentang sejarah kejatuhan Orde Lama diurai siang itu. Bukan sembarang cerita, ini merupakan salah satu bahan penelitian beliau sebagai seorang sejarawan, sebagai seorang akademisi.

Kami mendapat sebuah buku yang dituliskan seorang sejarahwan dan jurnalis senior, Benn Wowor. Sayang sekali beta kehilangan buku bagus itu, dan bahkan lupa judulnya. Beberapa tahun lalu sempat beta cari ke beberapa tempat, termasuk Mbah Google, tapi tak kunjung bertemu.

Di buku itu dijelaskan sebuah analisa konspirasi penjatuhan Presiden Soekarno oleh Mayor Jenderal Soeharto dalam kerja sama dengan Amerika Serikat, dalam hal ini badan intelijen mereka yang termasyur, CIA.

Om Benn menceritakan bagaimana hubungan Soeharto dengan CIA yang terbangun sejak sang jenderal diberikan tanggung jawab menangani salah satu pusat pelatihan komando pasukan khusus.

Menurut beliau Bung Karno waktu itu sebenarnya sedang berada dalam posisi yang kuat. Pembentukan front Nasakom merupakan langkah paling strategis mengonsolidasikan semua kekuatan di level akar rumput. Angkatan Darat dan Partai Komunis Indonesia menjadi dua kekuatan utama Sang Proklamator untuk tetap berkuasa.

Ini juga mungkin, menurut saya, yang membuat kejatuhan presiden pertama itu berlangsung lama, hampir 3 tahun setelah pembunuhan para jenderal.

“Di Indonesia kudeta untuk menggulingkan Presiden Soekarno sebagai kepala negara dihebohkan oleh media pers asing sebagai suatu kudeta berjangka (creeping coup d’etat), karena proses perebutan kekuasaan negara di Indonesia berencana dan harus berlangsung secara merangkak dari tanggal 30 September 1965 sampai 27 Maret 1968.” (Kutipan tulisan Om Benn dalam salah satu artikelnya)

Dalam bukunya, om Benn juga mengiyakan pecahnya para jenderal Angkatan Darat menjadi dua kubu, yakni yang pro dan yang kontrapresiden. Beberapa kali bahkan rapat para pimpinan AD berlangsung terpisah.

Malam sebelum penculikan dan pembunuhan para jenderal, diceritakan bahwa pasukan yang ditunjuk mengeksekusi para jenderal melakukan dua kali apel di dua lokasi berbeda, dan di-brief langsung oleh jenderal yang kontrarevolusi.

Teknis penculikan dan pembunuhan disiapkan sejak 6 September 1965. Menurut beliau, beberapa kelompok underbow PKI dijebak untuk datang ke Lubang Buaya, namun lebih banyak yang tidak berhasil digiring ke sana.

Yang lebih mengerikan, setelah malam naas itu, penculikan dan pembunuhan terhadap anggota partai palu arit berlangsung di mana-mana. Hanya dengan tuduhan PKI mendalangi penculikan dan pembunuhan para jenderal.

Bertahun-tahun kemudian baru beta mendapat beberapa referensi yang menjelaskan bahwa bukan ribuan, tetapi jutaan jiwa hilang (disiksa/dibunuh) hanya karena terdaftar sebagai anggota PKI atau karena memiliki atribut PKI.

***

Sang doktor, tiba-tiba berdiri dari bangku, menuju ke papan tulis dan menuliskan beberapa keterangan. “Kejadian ini terhubung dengan perang dingin kedua negara adikuasa Rusia dan Amerika Serikat. Perang ideologi,” terangnya.

Benang kusut di kepala sepanjang cerita perlahan mulai menemukan jalan pulang.

Ternyata dampak perang dingin tidak berakhir dengan kudeta terhadap Sang Proklamator. Bergabungnya Timor Leste ke Indonesia punya cerita sendiri sebagai dampak dari perang ideologi pada periode itu. Setelah berhasil membunuh kekuatan komunisme di seluruh nusantara, sekutu neolib (maaf kalau saya sebut begitu) juga memastikan Timor Leste tidak menjadi borok kecil di Kawasan Pasifik, yang bisa saja membesar dan menguasai seluruh kawasan.

“Perbandingan senjata Rusia dan Amerika Serikat waktu itu 5:1. Satu saja pangkalan militer Rusia di Pasifik (Pulau Timor) suda cukup memenangkan seluruh kawasan,” begitu tuturnya.

Kelas akhirnya harus dipaksa berakhir. Kami harus makan siang. Dua jam terakhir kelas hari itu, terus mengiang hampir sepekan dalam perbincangan kami sekelas. Beberapa dari kami sampai tidak mengerjakan PR hanya untuk mengandangi perpustakaan, ruang baca dan meminjam buku sejarah dari perpustakaan.

Ternyata memahami sejarah tidak sederhana. Selama ini bagi kami pelajaran sejarah itu hanya soal siapa yang hebat menghafal. Itu saja.

“Sejarah tidak bisa dilihat satu arah. Dari sudut pandang kita, Belanda itu penjajah dalam sejarah bangsa ini. Dari sudut pandang Belanda, kita ini daerah negara mereka yang wajib berbakti kepada negara,” seingat beta di akhir kelas beliau sempat bilang begitu. Mungkin akan lebih mudah dipahami kalau beliau sendiri yang menjelaskan. beta dan teman-teman yang mendengar langsung penjelasannya waktu itu, mengerti poin yang dimaksudkan beliau.

***

Bertahun-tahun kemudian setelah diusir dari Kimentur, dalam beberapa kesempatan beta mencari tahu bagaimana rumusnya sebuah kejadian/peristiwa menjadi sejarah. Apalagi sampai dilegitimasi sebagai cerita sebenarnya, yang akui sebagai kebenaran.

Apa yang terkenal dengan istilah Pengkhianatan/Pemberontakan Gerakan 30 September/PKI, jika ditinjau dari aspek sejarah sebagai suatu perstiwa, belum bisa dipertanggungjawabkan. Banyak temuan kejanggalan dari penuturan sejarah tersebut. Padahal sebagai suatu persitiwa besar, kejadian 30 September 1965 harus dituturkan secara objektif, tidak berubah-ubah, unik dan penting sehingga bisa disebut sebagai sejarah.

Anda bisa menemukan berbagai berita dan jurnal yang memaparkan berbagai kejanggalan sejarah 1965: tentang keterlibatan PKI dalam penculikan dan pembunuhan para jenderal, tentang ritual penyiksaan terhadap para jenderal, dan beberapa kasus lainnya.

Jika ditinjau dari aspek sejarah sebagai suatu ilmu, siapakah yang paling berhak menetapkan cerita sebenarnya peristiwa 65 sebagai sejarah nasional? Siapa yang berwewenang menentukan suatu sejarah wajib diketahui dan dimengerti warga negaranya, termasuk para pelajar dan mahasiswa di lembaga-lembaga pendidikan.

Bagaimana pertanggungjawaban terhadap unsur penting sejarah sebagai ilmu, dari sisi empiriknya, objek, teori serta metodenya?

Beta ingat guru sejarah di kelas utama waktu itu selalu mendorong kami menemukan buku sebanyak-banyaknya sebagai sumber sebuah makalah. Semakin banyak sumber, beliau akan semakin senang dan segan dengan kami.

Semua buku menuturkan sama. Tidak ada yang berbeda soal sejarah peristiwa 65. Beta sendiri tidak mengerti dokumen resmi mana yang menjadikan semua cerita dalam buku-buku itu sebagai sejarah yang sah. Yang beta pahami, buku itu keluar dengan izin dan hasil screening yang dilakukan oleh pemerintah.

Sulit rasanya melompat langsung pada kesimpulan bahwa sejarah yang diajarkan di lembaga pendidikan di bawah level perguruan tinggi adalah sejarahnya negara (sejarah dari angle negara).

Jika negara punya kapasitas yang cukup luas untuk menentukan isi sejarah yang sah dan harus diterima kebenarannya, maka beruntunglah mereka yang memimpin, mereka yang berkuasa, karena merekalah yang ‘empunya’ sejarah.

Siapa yang bisa memastikan itu sudah objektif dan memenuhi unsur dan aspek sejarah? Banyak. Rempong rasanya membahas sistem yang baik untuk negara dalam menuturkan sejarah secara objektif dan lengkap. Mungkin lebih baik mendidik orang supaya lebih bijaksana memahami tutur sejarah, selengkap-lengkapnya.

Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Komentar