Connect with us
Gong Xi Fa Cai

Komentar

Imlek, Gus Dur, dan Soe

Sabtu pagi, 9 Februari 2013 langit cerah. Deret judul di pojok kanan atas halaman pertama Harian Kompas membuka mataku bulat. Feature karya A. Handoko berjudul “Tionghoa Kalbar, Jatuh Bangun di Bumi Borneo” jadi sarapan pagiku. Penulis menguraikan sejarah masuknya orang Tionghoa di Kalimantan Barat dan gonjang ganjing hidup mereka di sana. Ulasan singkat dan padat itu menambah lagi nota sejarah Tionghoa di kepalaku.

Kompas hari itu banyak berisi pernak-pernik khas Tionghoa. Saya tersentak ketika melihat sebuah iklan yang berisi ucapan selamat menyambut tahun baru ular. Ternyata Tahun Baru Imlek 2564 sudah di depan mata.

Apa yang paling menarik dari Imlek bagiku? Angpao. Dulu semasa sekolah di Sekolah Dasar, ketika Tahun Baru Imlek – di tempat lahirku lebih dikenal dengan sebutan Tahun Baru Cina – aku dan kawan-kawan menelusuri toko demi toko milik warga Tionghoa demi amplop kecil berwarna merah itu.

Setelah studi di tingkat universitas, banyak pengetahuan tentang Imlek aku peroleh dari beberapa buku dan artikel. Aku akhirnya tahu tentang tradisi Pai saat Imlek. Tradisi ini merupakan penghormatan kepada orangtua, suami-istri, sanak saudara, atau famili dengan ucapan selamat dan doa semoga orang-orang tercinta kita itu murah rejeki, panjang usia, sehat sejahtera, dan sukses selalu.

Imlek atau Khongcu Lik merupakan peringatan Tahun lahirnya Nabi Khongcu, seorang nabi dari Agama Khonghucu. Ini menarik karena Tahun Baru Imlek modern ini sering dirayakan dalam Misa Kudus atau Ibadah di gereja-gereja Kristen. Bagi pemeluk Agama Khonghucu perayaan hari raya tersebut oleh agama lain merupakan bukti teposeliro dari umat agama lain untuk memperingati Tahun Baru Imlek.

Hal menarik lainnya dari Tahun Baru Imlek yakni bahwa Imlek merupakan lambang persatuan. Saat Imlek, seluruh keluarga berkumpul. Momen ini lekat dengan sebuah peribahasa Tionghoa, Cia Yeo Yi Lawa, Cu Yeo Yi Pau, yang berarti keluarga dan orangtua lebih baik daripada permata. Peribahasa ini mengartikan bahwa kekuatan bekal dan akar budaya orangtua mampu mempersatukan seluruh keluarga.

Kemeriahan Imlek di Indonesia tahun-tahun belakangan ini jelas sangat berbeda dengan banyak tahun silam. Keberadaan orang Tionghoa di Indonesia menjadi persoalan sejak kemerdekan sampai hari ini. Berbagai tindakan diskriminatif dihadapi oleh etnis yang tersebar di seluruh dunia ini. Kenangan paling kelabu dalam sejarah orang Tionghoa di Indonesia adalah tragedi kerusuhan 1998 di Jakarta. Banyak keluarga Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Lika-liku peristiwa tentang tragedi ini tak kunjung selesai dituntaskan negara.

Adalah KH. Abdurrahman Wahid, presiden keempat republik ini yang membuka gerbang bagi geliat masyarakat Tionghoa berekspresi dengan kebudayaannya. Barongsai, salah satu kekayaan budaya Tionghoa, lahir kembali. Lewat Keppres No. 6/2000, Gus Dur mencabut Inpres 14/1967 yang dinilai memarginalkan etnis Tionghoa.

Selama pemerintahan Orde Baru orang Tionghoa dilarang merayakan Imlek secara terbuka. Setelah mencabut inpres tersebut, Gus Dur kembali menerbitkan Keppres No. 19/2001 yang menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif. Baru pada Pemerintahan Presiden RI yang kelima, Megawati Soekarnoputeri, Imlek resmi dinyatakan sebagai hari libur nasional.

Gus Dur berjasa bagi negerinya teristimewa bagi warga negara keturunan Tionghoa. Ketika Imlek, di kelenteng-kelenteng orang memanjatkan doa. Nama Gus Dur kerap terdengar dalam doa-doa mereka. Bagi orang Tionghoa di Indonesia Gus Dur adalah pahlawan. Aku pun begitu. Ketika mendengar persoalan antaragama di negeri ini, aku selalu membatin: “Gus Dur is my hero!”

Gus Dur tentu memiliki pemikiran sendiri dalam setiap tindakannya. Aku juga punya dugaan sendiri tentang langkah Gus Dur terkait masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Kita semua pasti tahu tentang Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa yang lantang dalam aksi meruntuhkan Orde Lama. Soe adalah seorang Tionghoa. Latar belakang etnis Tionghoa yang melekat padanya tidak menyurutkan panggilannya untuk menyuarakan keadilan dan demokrasi bagi masyarakat Indonesia.

Ketika Keputusan Presidium Kabinet No. 127 Tahun 1966 tentang perubahan nama Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa diterbitkan, semua orang Tionghoa di Indonesia mengganti nama mereka dengan nama-nama lokal di daerah yang mereka tempati. Keluarga Soe di Jakarta ikut mengganti nama. Soe sendiri memilih untuk tetap menggunakan nama aslinya.

Selama pergerakan revolusi 65/66 berlangsung, Soe lantang dalam aksi dan tulisan-tulisannya. Ia mengisi banyak kolom opini media-media nasional. Kritik dan tawaran solusi yang ideal menjadi kekhasan artikelnya. Pasca keruntuhan Orde Lama, Soe tidak berhenti berjuang. Kesalahan dan kejahatan Orde Baru dalam peristiwa G30S/PKI juga dibahasnya dalam berbagai tulisan di media. Kelantangan Soe ini membuat dia terasing di kampus bahkan lingkungan sekitarnya.

Sayang sekali pemuda pemberani dan idealis ini harus menyambut ajalnya di usia muda. Soe meninggal karena asap beracun di puncak Gunung Semeru. Dramatis sekali karena pencinta alam yang gemar hiking itu harus berakhir di puncak gunung. Alam mungkin begitu mencintai dia.

Kepergian Soe menyisakan banyak sejarah dan memori bagi negeri ini. Catatan Seorang Demonstran yang adalah catatan hariannya kini menjadi inspirasi bagi banyak kaum intelektual muda.

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat di masa Orde Baru, Soedjatmoko, dalam pertemuan The Asia Society in New York menyampaikan, “Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok Gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan. Bagi saya, ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia.”

Soe menurut aku memperjelas bagi kita bahwa ada etnis lain yang bersatu dalam ke-Indonesia-an kita. Tidak saja orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, atau Papua yang tergabung di dalam Indonesia, tetapi juga orang Tionghoa. Aku yakin, pendapat seperti yang aku kemukakan ini adalah salah satu gagasan yang sudah lama dipikirkan Gus Dur kala ia masih hidup. Gagasan ini kemudian menjadi salah satu pertimbangan beliau dalam mengambil langkah terkait lika-liku persoalan warga negara keturunan Tionghoa di republik ini.

Soe telah membuktikan komitmennya untuk ikut membangun republik, yakni lewat ide dan gagasannya. Gus Dur kemudian menyumbat kran-kran diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Gonjang-ganjing kehidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia telah memberikan pelajaran berharga tentang pluralisme bagi kita. Semoga Imlek, yang adalah lambang persatuan, menyatukan kita semua yang hidup di bawah payung Pancasila. Selamat Tahun Baru Imlek 2654. Gong Xi Fa Cai.

Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Komentar