Penggalan judul tulisan ini merupakan deretan kalimat terakhir dari Film Cahaya dari Timur, Beta Maluku. Sani mengucapkannya dengan ekspresi bahagia tanpa lagi peduli pada kamera yang masih menatap ke badan lapangan. Agak angkuh menurutku.

Sekilas di awal film penonton pasti tersenyum segar melihat beberapa titik wisata pantai di pesisir Kota Ambon. Angga dan Glenn membuka film dengan tampilan eksotik Pantai Natsepa, Pintu Kota, Kolam Morea di Waai, Pantai Liang dan beberapa tempat wisata lain.

Keindahan tersebut sempat sirna sepanjang konflik saudara belasan tahun di Kota Manis itu. Masyarakat Maluku kini berbenah memperbaiki hidup setelah perang saudara yang penuh dengan misteri, siapa dalangnya.

Seusai menonton film itu, beberapa teman kerap menceritakan kesan kuat tentang pentingnya toleransi dan keyakinan mewujudkan mimpi sebagai seorang pemain bola profesional. Tak banyak dari mereka yang menangkap satu pesan lain yang ingin disampaikan.

Cahaya dari Timur, Beta Maluku merupakan sebuah film yang terinspirasi dari pergulatan Sani Tawainella ‘menyelamatkan’ anak-anak binaannya di Negeri (Desa) Tulehu dari pengaruh perang saudara yang tengah berlangsung di Ambon, Maluku. Proses tersebut akhirnya tidak sia-sia ketika para pemain junior binaanya itu berhasil mencapai sebuah kompetisi tingkat nasional.

***

Tulehu, sebuah negeri Muslim di bibir pantai Pulau Ambon memang terkenal sebagai kampung bola. Seperti di berbagai daerah lainnya, sepakbola selalu menjadi salah satu event menarik di setiap perayaan ulang tahun kabupaten dan kota.

Orang tidak heran ketika tahu bahwa pemain yang menggiring bola dengan lihai dan menendang dengan kencang dan akurat dalam sebuah pertandingan adalah anak Tulehu. “Dia itu anak Tulehu,” penonton kerap menyadarkan penonton lain di sekitar lapangan usai melihat aksi lincah anak Tulehu.

Pesepakbola Tulehu dibayar banyak tim dari kecamatan lain untuk bermain dalam berbegai event. Bahkan, semakin banyak pemain asalTulehu, orang semakin yakin tim itu akan memenangkan kompetisi. “(Tim) Kota Masohi pasti menang, ada empat anak Tulehu main par dong (untuk mereka).”

Tim riset film sempat berkeliling Maluku untuk mengetahui sejauh mana keintiman Maluku dengan sepakbola. Ketika sampai di Kota Ternate misalnya. Banyak pesepakbola junior ditanyai apa cita-cita mereka kelak sebagai pesepakbola. Mereka dengan lantang menjawab suatu hari harus memperkuat Persiter (Persatuan Sepakbola Indonesia Ternate).

Begitu pula ketika di Kota Tual, beberapa pesepakbola junior disana menjawab, suatu hari mereka ingin memperkuat Persimalra (Persatuan Sepakbola Indonesia Maluku Tenggara). Jawaban serupa didapat ketikatim bertanya pada beberapa pesepakbola junior di Kota Ambon. Suatu hari mereka ingin memperkuat PSA (Persatuan Sepakbola Kota Ambon).

Namun, jawaban berbeda dan mencengangkan datang ketika pertanyaan yang sama dilontarkan kepada beberapa pesepakbola junior di Negeri (Desa) Tulehu. Anak-anak Tulehu hanya punya satu cita-cita. Suatu hari harus memperkuat Tim Nasional Indonesia. Ini bukan cita-cita konyol. Banyak deretan nama anak Tulehu tercatat pernah mengharumkan negeri ini dengan memperkuat Timas.

Sebuah dialog kuat yang mampu membakar semangat anak-anak Maluku menjadi pesepakbola nasional bahkan internasional disajikan Angga apa adanya dalam Film Terbaik Piala Citra 2015 itu. Saya sempat mengatakan ke teman-teman percakapan Alvin dan ibunya itu benar-benar terjadi. Alvin yang di-omelin ibunya karena tidak membuka sepatu sebelum masuk ke rumah membalas ibunya, “Tenang saja mama, suatu hari nanti, kaki ini pasti akan bawa uang 1 miliar par (untuk) mama.”

Berkunjunglah ke Tulehu, temukan di setiap dinding rumah orang tua disana memajang foto terbesar yang dibingkai dengan rapi untuk menampilkan anaknya, sedang berkostum dan bersepatu bola sambil memegang piala dan medali. Bukan foto wisudah atau bingkai foto nikah dan foto keluarga.

Tidak mudah meyakinkan orang tua di Maluku untuk mendukung niat manjadi pesepakbola profesional. Sepakbola kerap dinilai bukan sebuah masa depan bagi anak-anak mereka. Pertentangan Jago dengan ayahnya jadi potret perjuangan menjadi pemain profesional di tengah kehidupan sosial di Maluku.

Tapi Sani mampu memberikan fakta bahwa sepakbola harus menjadi sarana pembentukan mental dan karakter anak dan pelajar di Maluku. Sajian bagaimana dia dan Rafi membentuk kedesiplinan anak-anak binaannya memberikan potret berbeda. Salembe yang kerap bolos sekolah perlahan menjadi serius dengan studinya.

Lebih lagi, Sani mampu menghadirkan sarana healing bagi anak-anak Tulehu yang sakit secara psikis akibat konflik yang sedang bergulir. Sesuatu yang selama ini dinilai pemerintah tidak lebih penting daripada penyembuhan infrastruktur yang rusak. Sani ingin menghapus kenangan konflik dalam benak anak-anak binaannya.

Walaupun begitu, Angga tak lupa memutar kembali kenangan gagalnya Sani dan Rafi ketika menjadi pesepakbola junior. Belum lagi kejadian mengharukan ketika ayah Jago mendatangi Sani, memberikan bantuan dana untuk keberangkatan tim ke Jakarta. Lihat betapa sepak bola melekat pada kenangan semua anak laki-laki di negeri pelabuhan itu. Ayah jago pun punya kenangan bagaimana sulitnya berjuang menjadi pemain bola profesional. Kenangan itu bahkan sudah hamper membunuh keyakinan mereka bahwa sepakbola masih menjadi masa depan bagi orang Tulehu.

Film yang diluncurkan pasca gelaran sepakbola termegah, Piala Dunia 2014 di Brazil itu menyajikan fakta bahwa anak-anak Tulehu mengawali perjalanan menggapai mimpi dengan bermain telanjang kaki. Dengan menggunakan buah kelapa kering sebagai cone, ranting kering sebagai pembatas jarak dan bola mikasa tua yang keras seperti batu.

***

Lantas bagaimana dengan suguhan konflik saudara yang merembes masuk dalam tim? Apa yang mau Glenn dan Angga sampaikan bagi Indonsia dan dunia?

Tim bentukan Sani akhirnya terbelah setelah konfliknya dengan Rafi. Tidak ada yang sempurna dalam sebuah cerita. Ini yang terus membuat cerita hidup menjadi menarik dan menyenangkan, kan? Hehe…

Sani ditawarkan melatih sebuah tim sekolah di Negeri Passo, sebuah negeri Kristen di jangtung Pulau Ambon. Sebuah kompetisi antar pelajar akan berlangsung di Ambon. Kehadiran Sani yang adalah orang Tulehu sempat menjadi perdebatan para guru. Namun Yosep, guru olahraga yang mengajak Sani, akhirnya mampu meyakinkan kepala sekolah bahwa orang tua murid bisa diberi pengertian.

“Coba bapak bayangkan apa kata orang tua murid nanti kalau mereka tahu sekolah kita menjadi juara di John Mailoa Cup, dan menjadi sekolah yang mencontohkan rekonsiliasi karena berpelatih seorang muslim,” ujar Yosep meyakinkan atasannya.

Kecintaan Salembe dan Alvin terhadap sosok Sani yang telah membimbing mereka sejak kecil tidak bisa dibendung. Mereka berdua memilih bergabung dengan Tim SMK Passo. Jago dan teman-teman lain memilih tetap memperkuat Tim Tulehu Putera yang kini dilatih Rafi.

Sekali lagi terbukti, keistimewaan anak-anak Tulehu menggiring bola tidak terbendung. Kehilangan Sani dan dua rekan mereka tidak mampumenahan keinginan Hendra Bayau dan kawan-kawan untuk mengangkat piala. Tulehu Putera menang melalui gol sematawayang Jago.

Setelah kemelut dalam tim Tulehu Putera dan kekalahan tim SMK Passo, sebuah kesempatan emas telah menanti. Sani dan Rafi dipertemukan RajaNegeri Tulehu Alm. John Ohorella. Bermaksud memberikan tanggujawab melatih bagi dua orang bersahabat itu, bapak raja akhirnya terpaksa memilih Sani karena penolakan Rafi. Sani akan dibantu Yosep mempersiapkan tim muda Maluku menuju sebuah kejuaraan nasional.

Tim Maluku merupakan gabungan dari dua tim yang bertanding di final John Mailoa Cup. Semua pemain diseleksi. Angky dan Fingky Pasamba dari Negeri Passo akhirnya bergabung dengan beberapa pemain Tulehu Putera mewakili Maluku dalam kompetisi Indonesia Cup U-15 di Jakarta.

Kemelut baru muncul. Sentimen konflik saudara tidak bisa dibendung. Dalam sesi latihan, Salembe kerap tidak memberikan bola kepada dua pemain asal Passo tadi. Semua kesalahan tim menurutnya berasal dari ulah dua orang itu.

Yang menarik, kemarahan Salembe muncul bukan karena kedua anak itu berasal dari Negeri Passo yang Kristen, tapi karena ayah kedua anak itu adalah seorang komandan brigade mobil (brimob) Polri. Salembe garang ketika mengingat kembali almarhum ayahnya yang tewas dalam perang akibat peluru aparat.

“Beta seng suka dong kakak. Karena dong pung bapa polisi. Beta pung bapa mati karena kena peluru polisi kaka. Dong pung bapa yang bunuh beta pung bapa…” begitu luapan emosi Embe.

(“Saya tidak suka mereka. Karena ayah mereka seorang polisi. Ayah saya tewas karena peluru senjata polisi. Ayah mereka yang membunuh ayah saya…”)

Glenn dan Anggga mau memberikan pesan bahwa konflik di Maluku tidak sesederhana yang orang dengar yakni konflik orang Muslim dan Kristen. Pesan film ini kemudian semakin jelas ketika sang produser dan si sutradara mengulik-ngulik ketegangan melawan tim DKI Jakarta yang bertemu tim Maluku di babak penyisihan group dan laga final.

Ketegangan Salembe dan kedua bersaudara Pasamba masih berlanjut. Di Jakarta, Tim Maluku bermain buruk ketika dijamu tuan rumah Tim DKI Jakarta. Di dalam ruang ganti mereka sempat baku pukul. Kekerasan hati Salembe sepanjang laga akhirnya diredam Jago yang juga kehilangan ibunya dalam perang.

Perjalanan tim semakin meyakinkan. Anak-anak Maluku berhasil mencapai laga final. Di pertandingan puncak tim yang sudah bersatu kini harus menghadapi banyak keputusan wasit yang tidak adil dan ulah pemain lawan yang bermain kasar. Salembe tampil menyemangati teman-temannya. “Kalau dong sikut katong, badiri. Dong sikut lai, badiri lai. Jang dong anggap katong remeh.”

(“Kalau disikut, kita harus kembali berdiri. Disikut lagi, kita harus berdiri lagi. Jangan sampai mereka menganggap remeh kita.”)

Maluku akhirnya mengalahkan DKI Jakarta melalui adu penalti. Saya belum lama ini tahu dari salah satu anggota tim riset film, bahwa kabar adu penalti melalui telepon benar-benar terjadi. Siaran TVRI Nasional di Maluku memang berbatas waktu.

Dengan sedikit lebih jeli kita pasti menemukan sebuah pesan yang jauh lebih emosional dari film ini. Glenn dan Angga mau menyampaikan ke kita semua, konflik saudara di Maluku bukan murni ulah orang saudara di negeri Pela Gandong itu.

Indikasi keterlibatan oknum aparat dan para provokator menjadi biang konflik berkepanjangan itu memang ada. Bahkan, dalam beberapa analisa ahli dan laporan jurnalistik beberapa jurnalis, konflik Maluku tidak terlepas dari campur tangan beberapa pembesar di Jakarta.

Penggalan kalimat terakhir Sani dalam film ini sesunggunya adalah pesan bagi para penjahat biadap yang telah memporak-porandakan negeri rempah-rempah itu. Orang Maluku kini terus membangun perdamaian untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Untuk budaya Pela dan Gandong yang akan abadi walaupun kalian menikamnya dengan kemunafikan dan kedengkian.

“Maluku sudah menang melawan kalian, hewan-hewan busuk!” ucapku dalam hati.

Semangat mempertahankan perdamaian dan pencarian strategi yang tepat untuk menelusuri sekaligus mengungkapkan cerita sebenarnya di balik perang saudara di Maluku hingga kini terus berlangsung. Banyak yang berpendapat biarkan semua berlalu. Maluku harus berjalan terus dengan damai. Saya pribadi menilai pilihan ini butuh waktu panjang dan bukan tidak mungkin di tengah jalan ‘para hewan busuk’ itu akan terus mengoyak bangunan baru yang sedang dibangun.

Kita harus menelusuri semua kejadian yang sebenarnya di balik konflik Maluku. Membuka itu lembar demi lembar dan selebar-lebar mungkin, lalu mengaku dengan hati jujur. Harus ada pengakuan terhadap konflik itu, baru ada kata maaf yang tulus. Anak negeri tidak akan mudah memaafakan tanpa ada pengakuan akan konflik.

Salah satu kalimat yang paling menggigit hati sebagai anak Maluku, yang sempat merasakan bulan-bulan awal konflik berdarah itu, yakni ungkapan Sani di dalam ruang ganti.

“Su talalu banyak sakit, katong pung hidop. Karena perang, karena marah, karena nafsu, karena mo menang sandiri. Beta percaya waktu seng akan cukup mencari sapa yang batul dan siapa yang salah. Tapi beta percaya satu, katong hidup harus lebih baik.”

(Sudah terlalu banyak sakit dalam hidup kita. Karena perang, karena marah, karena nafsu, karena sikap mau menang sendiri. Saya percaya watktu tidak akan cukup mencari siapa yang betul dan siapa yang salah. Tapi saya percaya satu hal, kita harus hidup lebih baik.”)***

Jakarta, 26 Februari 2015

  • Boleh kenalan sama penulisnya gak??

    • ppLelyemin

      Jangan buru-buru… 😀
      Salam kenal ya…

  • Yon Dema

    nice one brother…

  • adri sei.raya

    Salut sama bg piter..lama tidak berjumpa abang semakin gila dalam berkarya, semoga aada waktu bertemu lagi untuk belajar & berdiskusi.