Connect with us
Basuki Tjahaja Purnama

Komentar

Kenapa Ahok Minta Maaf?

Berapa hari lalu Ahok minta maaf atas pidatonya di Kepulauan Seribu yang menyinggung Surat Al Maidah 51 dalam Al Quran. Permintaan maaf itu ia sampaikan setelah video pidatonya yang dianggap menghina Al Quran beredar luas dan menyulut kemarahan sebagian umat Muslim.

Benarkah pidato Ahok berisi penghinaan terhadap Al Quran? Jawaban saya ya kalau memang betul pidato Ahok di Kepulauan Seribu seperti yang ada dalam video Buni Yani itu.

Tapi, sebagaimana kita ketahui belakangan, video Buni Yani tidak utuh. Ada bagian yang raib dalam video itu. Dan bagian yang raib itu, yakni kata pake, sangat menentukan makna omongan Ahok. Tanpa kata pake, omongan Ahok jelas menghina Al Quran (dibohongi Surat Al Maidah 51). Sebaliknya, dengan kata pake, omongan Ahok tidak menghina Al Quran (dibohongi pake Surat Al Maidah 51).

Ahok sendiri selalu menampik tudingan melecehkan kitab suci umat Muslim itu. Berulang kali ia menegaskan, dirinya sama sekali tidak berniat menghina Al Quran. Hal yang sama dinyatakan Ahok saat ia menyampaikan permintaan maafnya itu. Sebagai bantahan terhadap video Buni Yani, pihaknya juga sudah memublikasikan video pidatonya yang utuh.

Kalau begitu, kenapa minta maaf? Bukankah permintaan maaf mengandaikan kesalahan dan pengakuan atas kesalahan? Ahok menampik kesalahan yang dituduhkan kepadanya, tapi minta maaf?

Lepas dari pakai kata pake atau tidak, lepas dari ada tidaknya niat menghina, omongan Ahok telah menyulut kemarahan sebagian umat Islam. Kemarahan itu dikhawatirkan berlanjut dan menggelinding bak bola salju.

Oleh para penentang dan lawan politik Ahok, pidato Ahok di Kepulauan Seribu, video Buni Yani khususnya, sangat mungkin dijadikan amunisi untuk terus menyulut sentimen anti-Ahok dan menjatuhkan elektabilitas Ahok yang akan bertarung dalam Pilkada Jakarta 2017 nanti.

Jauh lebih krusial dari politik pilkada, pidato Ahok di Kepulauan Seribu telah memicu ketegangan SARA di tengah masyarakat. Jika tidak disikapi secara bijaksana, ketegangan ini bisa berkembang ke arah konflik SARA yang lebih serius dan memicu krisis sosial politik lebih luas.

Mengingat beberapa dampak tersebut, permintaan maaf Ahok, hemat saya, adalah satu bentuk upaya untuk meredakan ketegangan yang terjadi. Sekalipun secara subyektif Ahok tidak berniat menista Al Quran, meskipun secara obyektif tidak ada rumusan dalam kalimat Ahok yang menghina Al Quran, permintaan maaf merupakan satu langkah penting dari pihak Ahok untuk ikut menurunkan tensi dan mencegah eskalasi konflik.

Permintaan maaf Ahok merupakan respon terhadap situasi yang merisaukan. Sebagian umat Islam sudah tersinggung dan marah gara-gara pidatonya itu. Lepas dari apakah ketersinggungan dan kemarahan itu berdasar atau tidak, permintaan maaf termasuk hal yang perlu dalam upaya meredam kemarahan sebagian umat Islam.

Sebaliknya, Ahok tidak peka situasi kalau ia sendiri cuma ngotot menampik tudingan, dengan berbagai alasan yang tak dapat dibantah sekalipun, apalagi kalau hanya sibuk menyerang balik pihak-pihak yang memancing di air keruh. Alih-alih mencegah, sikap seperti itu justru memicu eskalasi ketegangan.

Permintaan maaf sebagai respon terhadap situasi dengan maksud menurunkan tensi, bukan sebagai pengakuan atas kesalahan yang dituduhkan, secara tidak langsung menyampaikan pesan ini, lebih-lebih buat Ahok sendiri: pentingnya mempertimbangkan situasi atau sadar situasi dalam mengambil sikap, khususnya dalam menyampaikan pernyataan politik.

Di tengah situasi rentan konflik SARA, bawa-bawa ayat kitab suci agama lain dalam omongan atau pernyataan politik, lebih-lebih sebagai pejabat publik, adalah sesuatu yang tidak perlu. Di tengah situasi rawan eksploitasi SARA, bawa-bawa ayat kitab suci umat lain ke arena pertarungan politik mestinya dihindari. Jika situasi rentan konflik dan eksploitasi SARA diibaratkan sebagai padang rumput kering, bawa-bawa ayat kitab suci agama lain adalah tindakan memercik api yang sangat berpotensi menyulut kebakaran yang luas.

Dalam situasi bebas kerawanan SARA sekalipun, pernyataan politik di ruang publik yang majemuk mestinya bebas dari bunyi ayat-ayat suci yang eksklusif, yang berlaku terbatas pada agama atau keyakinan tertentu. Di ruang publik yang majemuk, sikap dan pandangan politik mestinya disampaikan dalam rumusan atau argumentasi yang inklusif (tembus batas SARA), tanpa dalil-dalil sakral dari langit.

Andaikata Ahok memperhitungkan betul cuaca politik dan keagamaan kita hari ini, saya yakin ia tidak sampai bawa-bawa Surat Al Maidah 51 dalam pidatonya di Kepulauan Seribu. Dengan begitu, dinamika politik jelang Pilkada Jakarta 2017 pun tentu berbeda dari yang kita saksikan sekarang, entah seperti apa.

Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Komentar