Pasca kisruh antara Ahok versus DPRD DKI Jakarta, dukungan masyarakat kepada Ahok mengalir deras. Ada yang turun ke jalan menggalang aksi dan berorasi. Komunitas netizen memanfaatkan media sosial untuk menyalurkan aspirasi dukungan kepada Ahok.

Kisruh tersebut bermula dari pernyataan Ahok yang rada ‘ceplas-ceplos’ mengungkapkan dugaan adanya dana siluman di DPRD. Tidak tanggung-tanggung nominalnya senilai 12,1 triliun untuk pengadaan UPS (untirruptible power supply).

Kisruh tersebut mestinya sudah selesai pasca pelaksanaan mediasi antara dua belah pihak. Sayangnya, itu jauh dari harapan. Ada anggota DPRD yang disinyalir memaki Ahok saat rapat mediasi tersebut. Sesuatu yang tidak pantas untuk diucapkan oleh anggota DPRD. Pasalnya mereka adalah public figure yang mesti memberikan teladan kepada segenap masyarakat, malah memberikan preseden buruk.

Fenomena media sosial “Save Haji Lulung”

Jika kita mengamati persoalan antara Ahok versus DPRD DKI Jakarta, kita bisa menarik sebuah kesimpulan sementara (hipotesis) bahwa Ahok sedang berada di jalur yang benar. Dengan membongkar adanya dugaan korupsi ‘dana siluman’ Ahok sedang bekerja seturut harapan masyarakat Jakarta pada umumnya. Lantas untuk apa adanya tagar (hashtag) “Save Haji Lulung”? Bukankah mesti yang diselamatkan itu Ahok, “Save Ahok”?

Itu merupakan sebuah lelucon komunitas netizen yang ditujukan untuk mengolok-olok Abraham Lunggana atau akrab disapa “Lulung”. Bagi saya, tagar (hashtag) “Save Haji Lulung” tidak saja ditujukan kepada Lulung semata-mata melainkan kepada seluruh anggota DPRD DKI Jakarta.

Abraham Lunggana selama ini dikenal sebagai orang yang sering berseberang ide dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Purnama itu. Melihat kisruh Ahok dan DPRD ini bisa dikatakan bahwa Lulung merupakan representasi dari keburukan yang ada di DPRD. Pertanyaannya adalah apakah kemudian semua anggota DPRD DKI Jakarta secara moral buruk (korup)?

Tidak menutup kemungkinan mereka tidak korupsi. Indikasi kuat untuk menduga semua mereka korup adalah melalui penandatanganan persetujuan hak angket sebagai salah satu upaya pemakzulan Ahok. Dengan demikian, kita dapat menilai bahwa mereka sedang membangun sebuah self defense mechanism untuk mengamankan posisi politik dan posisi tawar di masyarakat saat ini dan dalam pemilu mendatang.

Apa indikasi untuk menilai Lulung (DPRD) sebagai tidak baik dan sebaliknya Ahok baik? Sederhana saja, lewat hal-hal praktis. Dahulu ketika masih menjabat sebagai wakil gubernur, Ahok berusaha untuk “membersihkan” pasar Tanah Abang yang, meski berhasil, ditentang habis-habisan oleh Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta itu.

Sekarang giliran Ahok berusaha membongkar dugaan korupsi di tempat para wakil rakyat itu, Lulung dan antek-anteknya mencap langkah Ahok ini sebagai pencitraan politik. Upaya jujur dan kerja keras Ahok mestinya diapresiasi, tetapi oleh mereka dianggap sebagai hal yang tidak perlu. Tidak perlu karena mengancam popularitas dan posisi politiknya.

Tagar “Save Haji Lulung” merupakan ekspresi kemuakan masyarakat atas fenomena korupsi yang kian merajalela di Indonesia. Masyarakat Jakarta ingin agar para wakilnya di DPRD sungguh-sungguh bekerja demi kepentingan rakyat; tidak korupsi; tidak berpihak kepada investor yang kongkalikong dengan anggota dewan; tidak bekerja untuk balas budi para sponsor yang memberikan dana kampanye.

“Save Haji Lulung” merupakan sebuah desakan yang urgen untuk segera menyelamatkan rakyat dari ancaman orang-orang yang korup seperti Lulung dan kawan-kawan. Itu bukan sekedar olok-olokan, itu lahir dari kegelisahan yang telah tertanam lama dalam pikiran dan hati segenap masyarakat. “Save Haji Lulung”, adalah ungkapan untuk menyelamatkan rakyat yang diwakili orang-orang di DPRD.

Yang sama mengenal yang sama

Fenomena “korupsi di DPRD” ini, dalam kacamata Irvin Janis (1918-1988), disebut groupthink. Groupthink merupakan komunitas di mana setiap anggotanya mempunyai pandangan atau pola pikir yang kurang lebih sama, fakta itu membuat mereka bersatu padu. Persatuan itu bukan karena mereka itu orang pintar, atau telah melakukan sesuatu yang membangun dunia, melainkan karena ketidakmampuan, kekuasaan yang koruptif, dan ancaman atas status quo mereka.

Mereka cenderung mempertahankan diri dari pelbagai macam kritik. Orang dari luar lingkaran mereka dianggap sebagai ancaman, menganggap remeh orang-orang di luar lingkaran mereka. Itu makanya ada anggota DPRD yang menyebut Ahok sebagai “Cina anjing” atau Cina kafir”, dan lain-lain sebagai bentuk self defense mechanism.

Empedokles, filsuf Yunani Antik-Prasokratik, mengatakan “yang sama mengenal yang sama”. Seorang penjahat akan bergaul dengan sesama penjahat; seorang koruptor akan bergaul dengan rekan-rekan seperjuangan yang korup; orang yang cinta akan kebenaran akan bergaul dengan yang sama-sama pecinta kebenaran. Itu sudah menjadi kodrat persahabatan mereka dari kalangan ‘yang sama’ tersebut.

Bergaul di dalam kelompok yang sama membuat mereka merasa diterima dan ada kecocokan satu sama lain. Ketika seseorang sudah merasa diterima otomatis dia akan nyaman di dalam kelompoknya. Segala daya upaya akan dilakukan untuk mempertahankan kelompok tersebut dari pelbagai ancaman yang datang. Maka ketika satu orang saja yang diketahui korup, kita bisa melacak semua anggota komunitas itu sebagai koruptor karena mereka berada di dalam satu jaringan yang sama.

Langkah Ahok yang cerdas dan berani

Langkah Ahok dalam membongkar dugaan korupsi di DPRD DKI Jakarta sudah betul dan mesti diapresiasi. Betul karena Ahok bekerja sesuai dengan perintah konstitusi demi kesejahteraan rakyat (bonum commune). Harus kita apresiasi karena kita adalah rakyat yang kepentingannya diperjuangkan Ahok dari mulut serakah para koruptor.

Seorang pemimpin, menurut Nicollo Machiavelli, mesti berani bak seekor singa dan juga cerdas (cerdik) seperti seekor rubah. Berani melawan setiap ketidakbenaran, setiap usaha yang menguntungkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan rakyat; serta cerdas menghindari perangkap yang dipasang musuh untuk menjeratnya.

Keberanian Ahok sudah terbukti dengan melawan “preman Tanah Abang”, melawan “lingkaran koruptor” di DPRD DKI Jakarta, dan keputusannya untuk keluar dari partai Gerindra yang telah membesarkan namanya di DKI Jakarta. Keluarnya Ahok dari Gerindra merupakan sebuah langkah cerdas untuk bebas bergerak tanpa kepentingan tertentu dalam memperjuangkan kepentingan bonum commune.

Banyak orang menilai langkah Ahok keluar dari Gerindra sebagai langkah politik yang tidak bijak. Ahok praktis tidak punya kendaraan politik untuk maju dalam pemilu 2017, karir politiknya selesai. Bagi Ahok, usaha untuk memperjuangkan kepentingan rakyat sudah selalu menjadi nomor satu, di atas segala-galanya. Entah jabatan, entah karir, bahkan nyawa sekalipun. Ini sebuah hal baru (yang positif) dalam fenomena perpolitikan di Indonesia.

Keberanian merupakan sebuah keutamaan “jalan tengah” menurut Aristoteles. Jalan tengah di antara ekstrim kenekadan dan ketakutan. Ahok bukan tipe orang yang nekad apalagi pengecut yang serba takut. Dia berani dengan segala pertimbangan etis dan rasional. Itu makanya dia berani melawan.

Dengan melepaskan diri dari ikatan dan kungkungan partai, melawan wakil rakyat yang berpotensi pemakzulan terhadap dirinya, Ahok tidak sedang berjuang sendirian (single fighter). Dia sadar bahwa kebenaran yang sedang dia lakukan mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Masyarakat yang sudah muak dengan korupsi akan senantiasa mendambakan sosok pemimpin yang cerdas dan berani, jujur dan adil, membela kepentingan mereka.

Model kepemimpinan yang berani dan cerdas yang ditunjukan Ahok mesti kita dukung. Di atas segalanya mesti kita tiru dan pelajari. Kita jadikan sebagai sebuah pelajaran untuk memberantas korupsi dari Jakarta, dari Indonesia.***

(Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian Pos Kupang, Jumat, 13 Maret 2015)

  • Aurelio

    Lulungku sayang, engkau selayaknya ditendang biar cepat nyadar,,,#save Haji Lulung

  • Lewo Bahan Bantel Junaidi

    Kedaulatan hukum-lah yang mesti ditegakkan, bukan kedaulatan politik (das sollen, das sein)

  • nobello

    setiap orang yang berjalan pada jalan yang benar, taat pada konstitusi dan setia pada tanggungjawab nasib dan hak rakyat, orang akan selalu mendukung, selalu membantu walaupun sulit dan berat, begtu sebaliknya adalah lawannya.

  • Vincent Lau

    Renungan Iman. ARTI KEMARAHAN !

    Pada suatu ketika datanglah seorang petinggi menghadap kepada Sang Kebijaksanaan.

    sambil bercerita ttg kebiasaan petinggi tsb yg gampang marah & memaki – maki bawahan,

    maka sang kebijaksanaan dengan tersenyum memberikan 369 paku paku & sebuah palu, kata sang Kebijaksanaan kepada Petinggi tsb . setiap kali kamu marah pakulah di dinding pintumu..dan cabutlah segera setelah amarahmu hilang.

    maka setahun kemudian lihatlah lubang-lubang di pintu ini. Pintu ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya.

    Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.”

    catatan kehidupan.setiap individu dengan berjalannya waktu dan bertambah usia, diharapkan semakin baik dan bertumbuhlah iman orang tsb.