“If you stand for the truth, you always stand alone.” (Lucky Dube)

Selama kurang lebih sebulan terakhir, publik, warga Jakarta khususnya, disuguhkan tontonan kisruh  Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama versus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta.

Kisruh ini bermula dari laporan APBD DKI Jakarta Tahun Anggaran 2015 dari Gubernur Basuki Tjahja Purnama kepada pemerintah pusat. Sebagaimana dinyatakan DPRD DKI, laporan itu menyimpang dari draf yang telah disetujui DPRD. Ahok pun dituding berbohong dan tidak menghargai lembaga perwakilan rakyat DKI Jakarta.

Tidak ada bantahan dari gubernur yang biasa disapa Ahok ini terhadap pernyataan DPRD DKI tersebut. Ahok sendiri secara tidak langsung justru membenarkan gugatan para wakil rakyat itu. Dikemukakan Ahok, beberapa pos anggaran dalam APBD yang disusun DPRD itu yang memang layak dihapus karena bernilai triliunan rupiah, padahal bukan prioritas untuk pembangunan DKI.

Dalam perkembangannya, anggota dewan yang kecewa dengan langkah Ahok menggulirkan agenda penggunaan hak angket (hak menyatakan pendapat). Reaksi DPRD DKI ini dapat dikatakan keras dan luar biasa karena sebetulnya ada langkah lain yang lunak yang bisa ditempuh, misalnya penggunaan hak interpelasi (hak bertanya).

Sebagaimana kita ketahui, Ahok adalah satu-satunya gubernur di Indonesia saat ini yang bukan orang partai. Awalnya, Ahok memang diusung Partai Gerindra, namun belakangan ia memutuskan keluar/berpisah dari partai pengusungnya itu akibat adanya perbedaan pandangan. Dalam kondisi seperti itu, Ahok harus sendirian menghadapi manufer politik yang dilakukan ratusan anggota DPRD DKI. Masuk akallah jika proses pangajuan hak angket oleh DPRD DKI itu pada awalnya relatif berjalan mulus.

Dalam hal-hal tertentu, Ahok mungkin pantas disalahkan atas langkah yang telah diambilnya. Akan tetapi, andaikata Ahok orang partai, tentu ia tak sendirian, tentu ada sebagian anggota dewan yang siap pasang badan membelanya. Bahwa belakangan Fraksi Partai Nasdem menarik dukungan terhadap rencana penggunaan hak angket, dan beberapa fraksi partai lain disinyalir akan mengambil langkah yang sama, hal itu, hemat saya, lebih karena tekanan dari pimpinan pusat partai-partai tersebut, tekanan yang bukan mustahil bisa diabaikan oleh para wakil rakyat di DKI itu.

Lirik lagu Lucky Dube yang saya kutip di awal tulisan ini relevan dengan dinamika politik ibu kota belakangan, dengan posisi Gubernur Ahok khususnya. Lirik lagu itu menyampaikan pesan bahwa dalam memperjuangkan sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran, tak jarang orang harus berbenturan dengan kelompok atau kepentingan yang lebih besar, yang lebih kuat, dan dalam benturan itu orang beresiko sendirian, terpojok, dicaci maki, atau dimusuhi banyak orang. Dan dalam konteks Ahok, resiko yang tidak mustahil adalah kehilangan jabatan sebagai gubernur.

Saya sendiri bersyukur bahwa di negeri ini saat ini masih ada pejabat publik seperti Ahok, pemimpin yang berani bersikap beda demi hal yang prinsipil. Saya bersyukur bahwa dalam kelangkaan pemimpin berintegritas yang melanda negeri ini masih ada orang yang berani menantang kelompok yang lebih superior demi kebaikan dan kebenaran yang menjadi kerinduan tidak sedikit orang yang berkehendak baik.

Dalam posisinya sebagai gubernur tanpa partai, Ahok bisa saja berkompromi dengan anggota dewan yang menentangnya. Dengan berkompromi, posisi politiknya tentu aman, kepemimpinannya di DKI Jakarta bisa berjalan mulus. Ia juga bisa saja mempertebal pundi-pundinya dari dana triliunan rupiah yang disetujui para anggota dewan itu.

Akan tetapi, Ahok mengambil langkah yang jarang dilakukan kebanyakan pejabat publik. Bisa dikatakan, ini merupakan langkah bunuh diri bagi Ahok karena sangat mungkin akan semakin banyak orang yang memusuhi dia, bahkan termasuk anak buahnya sendiri. Sulit dibayangkan bahwa kisruh ini akan cepat berakhir sebab masa bakti Ahok sebagai Gubernur masih akan berjalan dua tahun lebih. Dalam rentang waktu itu masih banyak program Pemprov DKI yang menuntut Ahok sebagai gubernur untuk berhadapan dengan DPRD yang kini berseteru sengit dengannya.

Siapapun yang berkehendak baik, warga Jakarta khususnya, tentu harus bersikap untuk tidak membiarkan Ahok sendirian. Bertahun-tahun kita sudah disuguhkan pemimpin yang santun, khususnya terhadap pihak-pihak yang bersinggungan dengan tugasnya sebagai pengambil kebijakan. Kini kita memiliki pemimpin yang apa adanya, blak-blakan, tanpa kompromi memperjuangkan kepentingan rakyat banyak di ibu kota. Kita berharap, kepemimpinan seperti ini ini tidak terbunuh oleh orang-orang yang berteriak atas nama rakyat, namun sebenarnya sedang merampas hak-hak rakyat untuk memiliki pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel.

Pesan lagu Lucky Dube di atas tidak akan jadi nasib Ahok yang niscaya hanya jika kita mendukungnya, berdiri di belakangnya dalam benturan dengan kekuatan kontrarakyat yang tengah dihadapinya. Mengutip lagu Michael Jackson, masing-masing kita harus katakan kepada Ahok: You are not alone, I’m here with you. Tidak hanya dalam senandung selagi mandi tentunya, tapi dalam berbagai bentuk dan cara yang nyata dan punya dampak secara politik. Dengan begitu, yang terjadi bukan lagi satu lawan banyak, tapi banyak lawan sedikit. Semoga.***

  • Kisruh Lucky Dube versus Michael Jackson. Ending yang diharapkan: Unlucky Dube.

  • Praxedis Sadipun

    Maju terus pak Ahok…jangan takut…berjuanglah demi rakyat DKI…saya dari NTT sangat mendukung perjuangan bapak…’KEBENARAN’….pasti menang….