Connect with us
Foto James Nachtwey

Berita

Korban Perang Antinarkoba Filipina Dalam Bidikan James Nachtwey

“Kamu semua yang terlibat kejahatan narkoba, kamu adalah anak pelacur, saya akan bunuh kalian.” Pernyataan ini disampaikan kandidat presiden Rodrigo Duterte dalam kampanye pemilu presiden Filipina tahun lalu.

Tanggal 9 Mei 2016, sebulan setelah pernyataan itu, Duterte memenangkan pemilu. Ia lalu membuktikan, ancamannya itu bukan cuma gertakan musim kampanye.

Sejak menduduki kursi presiden akhir Juni 2016 lalu, Duterte melancarkan perang terhadap kejahatan narkoba, perang untuk menghabisi mereka yang disebutnya anak pelacur itu. Kebijakan itu hingga kini telah menelan korban nyawa lebih dari 6000 orang. Yang menjadi korban adalah mereka yang diduga menjadi pemasok maupun pemakai narkoba. Eksekusi tanpa proses hukum (extrajudicial killing) dilakukan para preman, pembunuh bayaran, termasuk aparat kepolisian.

Pendekatan ekstrayudisial untuk mengatasi kejahatan narkoba bukan hal baru bagi Presiden Duterte. Saat menjadi walikota di bagian selatan Kota Davao, Duterte melakukan hal yang sama. Mereka yang diduga menjadi penjual dan pengguna narkoba meregang nyawa ditembus timah panas dari senjata para preman.

Bahkan, Duterte sendiri, saat menjadi walikota, ikut membunuh sejumlah terduga pelaku kejahatan narkoba. Hal itu diakuinya sendiri ketika bertemu kalangan pebisnis di Filipina bulan Desember lalu.

Cara tak beradab Duterte dalam menangani kejahatan narkoba di negaranya telah memicu keprihatinan berbagai kalangan dalam maupun luar negeri. Kalangan politisi oposisi dan kelompok peduli HAM Filipina telah menyerukan pemakzulan terhadap Duterte. Komisi HAM PBB sudah angkat bicara, mendesak Filipina menginvestigasi kasus pembunuhan yang diklaim Duterte.

James Nachtwey

Fotografer perang James Nachtwey

Salah satu orang yang ikut bereaksi terhadap kebijakan Duterte adalah James Nachtwey, fotografer perang asal AS yang oleh banyak orang dipandang sebagai fotografer perang terbesar di dunia saat ini.

Selama tiga dasawarsa terakhir, Nachtwey banyak menghabiskan waktunya mendokumentasi krisis sosial politik di lebih dari 30 negara. Antara lain, ia melakukan peliputan di El Salvador, Nikaragua, Lebanon, Gaza, Israel, Afganistan, Korea Selatan, Somalia, Sudan, Rwanda, Bosnia, Chechnya, termasuk Indonesia saat gejolak reformasi tahun 1998 silam.

Dengan hadir di tengah berbagai daerah konflik, Nachtwey dapat merekam dan mengungkap fakta, mendokumentasi kisah nyata perjuangan banyak orang dan kaum demi martabat sebagai manusia. Karya-karyanya pun telah menjadi seruan kepada banyak orang agar bangkit dan ambil tindakan untuk mengubah keadaan.

Dengan caranya sebagai jurnalis foto, Nachtwey menyatakan keprihatinannya atas kebijakan Duterte. Ia datang ke Filipina lalu meliput dan memotret. Sejumlah foto hasil jepretannya merekam jazad para korban yang malang dan wajah keluarga korban yang berduka. Foto-foto karya James Nachtwey itu dipublikasi Time, media yang mengontrak Nachtwey sejak 1984.

Nachtwey adalah sosok yang tak banyak bicara. Akan tetapi, foto-foto hasil bidikannya bisa bicara banyak. A picture is worth a thousand words.

Tidak mustahil, gambar-gambar hasil bidikan James Nachtwey bisa memicu penolakan lebih besar terhadap kebijakan Duterte, bahkan bisa saja membangkitkan penolakan terhadap Duterte sendiri sebagai orang nomor satu Filipina saat ini. Kita lihat saja apa yang bakal terjadi.

Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Berita