Connect with us
Menulis

Komentar

Notanostra: Berawal dari Hasrat

Sekelompok anak muda, pada suatu malam, mengitari sebuah “meja bundar”. Oleh pewaris generasi terkini, “meja bundar” menyiratkan makna kebersamaan yang akan selalu dikenang. Singkat cerita, meski sudah tampak tua, “meja bundar” sudah menjadi peninggalan sejarah sekaligus sejarah untuk sebuah permulaan. Permulaan tentang hasrat, tentang kerinduan. Kerinduan yang mewakili hasrat manusiawi terdalam. Hasrat menjadi “ada” dengan apa yang terungkap dalam omongan bahkan melalui tulisan. Ya, permulaan untuk mulai. Mulai menulis dan terus menulis. Menulis apa saja what’s on your mind (berupa apa yang sedang ada dalam pikiran). Sebab dengan menulislah, kemampuan kreativitas dan daya kritis manusia menemukan ruang realisasinya.

Notanostra, dari sekadar “ada bersama”

Tak terbantahkan, perkembangan teknologi di era digital, menciptakan ruang interaksi yang sangat terbuka, cepat, dan instan. Kehadiran media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Google+, Path, dan cyber media lainnya merupakan sebuah terobosan yang sangat berarti. Segenap kemampuan kreativitas imaginatif, ungkapan perasaan dan pelbagai isu serta realita tertuang dalam beragam bentuk tulisan. Era digital melalui media sosial memperoleh wujud realisasinya.

Menempatkan konteks “ada bersama” di tengah tuntutan interaksi media online atau dunia maya tidak hanya berhenti pada titik kritik bahkan ironi. Manusia modern dengan turbulensi modernitas (life style), tidak dapat menghindari aneka kritik sembari membangun kesadaran (kolektif) di tengah arus modernitas itu. Apakah pola interaksi yang massif melalui media sosial sungguh dimanfaatkan secara baik untuk menghasilkan sesuatu yang berdampak positif? Ini sentilan penting pada makna ada bersama, melampaui bobot interaksi di media sosial yang di dalamnya seseorang memaknai hakikat eksistensi dirinya, yakni ada dan menjadi (to have and to be).

Menulis untuk ada

Hasrat untuk menulis dan bahkan menjadi penulis profesional bukan produk sekali jadi, temporal, dan instan. Ia lahir dari sebuah proses tertentu. Mengutip sebuah istilah Latin, gutta cavat lapidem, non vi, sed saepe cadendo, titik air bisa melubangi cadas bukan karena kuatnya, tetapi karena terus-menerus menetes. Hal melubangi cadas tak cukup diukur dengan berapa hasil yang dicapai pada akhir dari proses panjang itu, tetapi juga seberapa intensif ia menetes selama proses itu. Demikian pula halnya dengan hasrat untuk menulis dan menjadi penulis. Ia bukan perkara sekali jadi, melainkan suatu kebiasaan, suatu cara hidup. Artinya, hasrat, kemauan, dan intensitas pengalamanlah yang mengondisikan segala daya inteligensi dan kreativitas.

Berpijak pada konteks kekinian, hasrat untuk menulis sudah menjadi kerinduan universal. Setiap bentuk tulisan di berbagai media sosial sudah menjadi media interaksi dunia maya. Dari sekadar nimbrung meng-update status di Facebook, memberikan comment atau sekedar like, konfirmasi pertemanan, news feed, berbagai ungkapan perasaan dan pengalaman di akun-akun pribadi (Instagram, Twitter, Path) atau dalam grup-grup, hingga isu dan realita nasional dan internasional, mendapat akses yang serba mudah dan cepat melalui kelincahan jari-jemari. Itu berarti semua orang bisa mendapatkan media untuk dapat menulis sesuatu.

Namun, apakah era digital dengan kecanggihan media teknologi dan alat komunikasi sungguh berdampak positif? Apakah ada standar kualitas dari setiap bentuk tulisan dengan mengabaikan berbagai pertimbangan nilai edukasi dan moral? Di satu sisi, perspektif bisnis menjadi alasan logis. Semakin banyak pengunjung yang notabene nimbrung, semakin meningkat pula keuntungan yang dicapai. Dalam hal ini, bobot tulisan bukan menjadi sebuah keharusan dan indikator bisnis. Apalagi untuk berita yang sifatnya reportase, bobot tulisan cenderung dikejar deadline waktu yang relatif singkat. Namun di sisi lain, sebuah tulisan yang sifatnya awet (timeless), memberi makna dan nilai tertentu, termasuk media online.

Oleh karenanya, kehadiran Notanostra (nota: tulisan, nostra: kami/kita) sebagai wahana media online, diharapkan mendapatkan privelese khusus. Artinya, menulis tidak hanya menjadi aktualisasi simbolik, entah disukai atau tidak, melainkan pilihan eksistensial, scribere esse: menulis untuk ada. Di sini, seorang penyair Venezuela Federico Vegas pernah mengungkapkan apa yang sudah menjadi keyakinan banyak penulis ternama. Baginya, jika saya tidak menulis, saya tidak ada (si no escribo, no existo). Dalam keyakinan serupa, kehadiran Notanostra bukan sekadar menjadi ada, melainkan karena hasrat dan kemauan untuk menulis dan menjadi penulis. Karena menulis, kami (kita) ada. Sebuah pembuktian eksistensi diri melalui sesuatu yang nyata dan konkrit, yakni menulis.

Dari perspektif rasional kritis, tentu aktualisasi pengetahuan melalui tulisan bukan satu-satunya alasan dan jawaban untuk menegaskan hakikat keberadaan seseorang. Namun, dari cara seseorang menampilkan sisi positif kemampuan dirinya (menulis), ia dapat mengetahui arti keberadaannya dalam konteks ruang dan waktu. Melalui pengalaman dan kebiasaan yang mampu membentuk dan memengaruhi dirinya.

Lalu, apa yang mestinya dimiliki agar tulisan di media sosial bisa bermakna dan selalu terasa awet? Tuntutan referensi bacaan menjadi keharusan. Dengan membaca, seseorang sudah mengumpulkan dalam dirinya berbagai informasi. Tentu kebiasaan membaca tidak segera dirasakan manfaatnya. Karena tidak semua bahan bacaan langsung dipahami seketika. Namun, berbagai karya besar yang dihasilkan para penulis handal lahir dari proses serupa. Tidak heran, Roberto Bolaño‎ (1953-2003), salah seorang penulis kawakan Chile, menulis demikian: membaca adalah lebih penting daripada menulis (leer es más importante que escribir). Hal itu tidak berarti menulis tidak penting. Menulis adalah kemampuan mengungkapkan sesuatu yang sudah disimpan melalui bacaan. Dalam arti ini, maka seseorang bisa saja membaca tanpa menulis, tetapi tidak bisa dipahami kalau seseorang bisa menulis tanpa membaca.

Mengutip Stephen King, if you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write. Itu berarti, waktu untuk membaca mengondisikan kemampuan untuk menulis. Membaca menjadi kondisi untuk menghadirkan sebuah tulisan. Dua fondasi yang selalu berkaitan dan saling mengondisikan. Sebuah kombinasi antara kreativitas rasio dan kebermaknaan. Dalam dan melalui tulisan inilah seseorang menampilkan bagian dari dirinya. Sebab menulis merupakan pengakuan yang bisa diberikan oleh generasi sesudahnya yang kebetulan tidak sempat bertemu secara fisik untuk mengakui keberadaan seseorang. Jelasnya, seseorang bisa diakui “pernah ada” melalui tulisan.

Notanostra, hasrat awal tanpa akhir

Ketika seseorang atau sekelompok orang telah memulai sesuatu yang menjadi kepedulian bersama, maka hal itu akan terus dikenang sebagai ‘milik bersama’ yang pernah ada. Ada rasa kecintaan pada salah satu aspek yang ditekuni melalui proses yang panjang. Kecintaan pada jurnalisme. Mencintai setiap waktu untuk membaca. Mencintai setiap waktu untuk menulis. Itulah jurnalisme, yang notabene tentu bisa dilakukan oleh siapa pun yang memiliki hasrat dan kemauan. Dalamnya, Notanostra mendapat ruang privelese. Siapa pun dapat menjadi jurnalis dengan karya tulisan yang dihasilkan.

Melalui tulisan, penulis telah mengingatkan dan akan terus diingat oleh generasi selanjutnya bahwa ia pernah ada. Lagi-lagi bukan sebuah bentuk pengakuan ahistoris. Karena sesederhana apa pun tulisan, ia pernah ada dalam ingatan, in memoria pembaca. Sebuah tulisan yang bermakna tentu lahir dari kepekaan mendalam untuk diungkapkan.

Pablo Neruda, salah seorang penyair terbesar abad ke-20 berkebangsaan Chili (1904-1973), beberapa saat setelah rumah kediamannya digeledah di Isla Negara oleh Tentara Chili, membuat pernyataan terkenal sebelum ia ditangkap. “Carilah..! Hanya ada satu benda yang paling berbahaya untuk kalian di sini: Puisi.” Memang, puisi-puisi Neruda dilarang di Chili oleh Junta militer hingga dipulihkannya demokrasi pada tahun 1990. Pablo dikenal sebagai penyair produktif. Minatnya dalam tulis-menulis dan sastra mulai dikenal sejak ia berusia 13 tahun. Pada usia yang masih dini inilah, Pablo menghasilkan karya pertamanya, Entusiasmo y perseverancia (“Antusiasme dan Kegigihan”). Hampir seluruh kisah perjalanan hidupnya yang penuh dengan gejolak pemberontakan dilukiskan dalam karya-karya besarnya: puisi, prosa dan jurnalisme.

Banyak penyair dan penulis besar yang dikenal pada masanya. Tentu, mereka dikenal dan dikenang karena mereka mewarisi tulisan-tulisan bermakna. Melampaui peradaban dan zaman di mana mereka “pernah ada.” Tulisan mereka adalah ungkapan jiwa yang terdalam dank arena itu tetap hidup sepanjang zaman. Mengutip Michel Butor, “Every word written is a victory against death”. Dengan menulis, kita sudah menang karena kematian bukan kata akhir.

7 Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Komentar