Connect with us
Pendidikan

Komentar

Pendidikan (Politik) yang Memiskinkan?

Sekali waktu, saya pernah berlibur ke salah satu desa di Flores. Desa tersebut tidak terlalu besar, tidak terlalu padat penduduknya. Pekerjaan utama warga setempat adalah bertani. Menarik, meskipun kecil, pemerintah masih menyediakan sekolah untuk proses belajar-mengajar di desa tersebut. Anak-anak setiap hari ke sekolah kecuali hari Minggu.

Dalam pengamatan saya, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar kelas ketimbang mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar kelas. Berlari, saling kejar-mengejar, bermain bola, dan lain-lain untuk waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh. Kegiatan tersebut terjadi tidak hanya sekali, tetapi berulang kali.

Karena penasaran, saya bertanya kepada salah satu anak didik yang berada di lapangan: “kenapa kalian tidak berada di dalam kelas, belajar atau mengikuti kegiatan layaknya sekolah pada umumnya?”. “Guru selalu jarang datang, paling sebulan 4 kali”, jawabnya lugas. Saya pulang dan anak itu kembali bermain bersama teman-temannya. Dengan lirih membatin, “inilah sebab dari seluruh kebobrokan di negeri ini”.

Hominisasi dan humanisasi

Gambaran di atas hendak mengatakan kepada kita bahwa inilah fenomena pendidikan di negeri kita. Terbengkalai, tidak terurus. Tidak ada pemerataan (kualitas) pendidikan seperti yang terjadi di Jakarta. Di pelosok-pelosok, ada begitu banyak potensi jenius yang tidak terjamah oleh pendidikan yang layak. Dan, melihat kasus yang serupa, kita bisa menyimpulkan bahwa pemerintah menutup mata untuk urusan perbaikan kualitas pendidikan.

Pendidikan merupakan sarana pemanusiaan diri ke taraf menjadi adab. Mengapa? Manusia adalah makhluk yang selalu menjadi, dan pendidikan merupakan sarana baginya untuk mengaktualisasi seluruh potensi dirinya. Melalui pendidikan dan hanya lewat pendidikan, manusia memanusiakan dirinya dan masyarakatnya.

Driyarkara, filsuf berkebangsaan Indonesia, mengemukakan gagasan yang cukup bagus terkait masalah pendidikan. Menurutnya, dua fungsi pendidikan adalah untuk hominasasi dan humanisasi. Hominisasi artinya lewat pendidikan, seseorang menjadikan dirinya sebagai seorang manusia. memanusia diri (penjadian manusia). Orang yang tidak bisa memanusia dirinya sama saja dengan dia sedang “mengkerbau” dirinya.

Setelah memanusia dirinya, seseorang akan menghumanisasi diri (perkembangan yang lebih tinggi). Seorang manusia unggul adalah orang yang sekaligus bisa menghominisasi dan menghumanisasi diri seturut martabat manusia. Oleh karena itu mendidik tidak lain adalah sebuah proses pemanusiaan manusia; inilah hakekat dari pada pendidikan.

Dengan demikian, pendidikan dapat kita nyatakan sebagai perbuatan yang paling fundamental dalam proses pembentukan manusia menjadi manusia. Dari pendidikan yang baik akan dihasilkan manusia dengan kualitas yang baik pula; dari pendidikan yang buruk (corrupted) akan keluar manusia-manusia biadab yang merusak bangsa. Indonesia dewasa ini.

Alegori goa Platon: sebuah model ideal pendidikan

Platon merupakan salah satu filsuf Yunani Antik yang berbicara secara panjang lebar mengenai pendidikan, bagaimana mendidik calon pemimpin dan negarawan ideal. Ulasan tentang itu dibicarakan dalam buku babonnya yang berjudul Politeia (The Republic).

Manusia tidak terdidik diibaratkan sebagai para tahanan yang terpenjara dalam goa. Seluruh hidupnya hanya bisa menatap ke depan karena lehernya dipasung sedemikian rupa sehingga tidak bisa menoleh ke samping. Bagi para tahanan, realitas adalah bayang-bayang, apa-apa yang tergambar pada dinding goa tersebut, terpantul dari cahaya api yang ada di belakang mereka.

Entah mengapa, ada salah seorang tahanan itu berhasil melepaskan diri dari pasungan itu. Dengan kondisi fisik yang sakit, dia berusaha keluar dari goa yang curam dan terjal. Sakit memang, tetapi harus dilakukan. Sesampainya di luar, matanya silau oleh cahaya matahari sehigga ia mengalami kebutaan selama beberapa saat. Setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya, dia bisa menikmati segala pemandangan yang ada di luar goa itu dengan bantuan sinar matahari.

Keindahan di luar ternyata “memaksa” dirinya untuk kembali ke dalam goa, untuk memproklamirkan kepada para tahanan lain tentang ‘kebenaran’ di luar sana. Mereka menertawakan dia, menganggap dirinya bodoh karena mereka telah nyaman dengan kondisi terpasung dan menganggap kondisi itu sebagai sebuah ‘kebenaran’ yang ultim.

Bagi Platon, pendidikan tidak lain merupakan proses keluarnya manusia dari bayang-bayang (doxa) menuju kepada kebenaran sejati (episteme) yang diterangi oleh idea kebaikan yang digambarkan sebagai matahari itu. Kepercayaan akan bayang-bayang sebagai kebenaran akan menjauhkan manusia dari kebenaran sejati. Manusia menjadi kerdil karenanya, atau dalam bahasa Driyarkara, manusia “mengkerbaui” dirinya. Atau dalam bahasa yang revolusioner, sebagaimana dikatakan Paulo Freire, pendidikan tidak lain adalah pembebasan diri.

Pendidikan sebagai transformasi masyarakat?

Bangsa ini sedang sakit. Korupsi meraja di hampir seluruh aspek kehidupan. Kejahatan hadir seolah-olah hukum sedang mati suri. Ketidakadilan absen dari kehidupan bernegara. Manusia bukan lagi rekan bagi sesamanya, manusia adalah ancaman bagi sesamanya. Apa masalahnya?

Menurut saya, pendidikan yang buruk adalah akar dari persoalan yang sedang melanda negeri ini. Ada hubungan logis sebab-akibat antara setiap bentuk kejahatan, korupsi, dan lain-lain dengan pendidikan yang buruk. Pendidikan yang buruk melahirkan kader-kader pemimpin yang buruk, anggota dewan yang buruk, orang-orang yang pemahaman yang buruk pula.

Pemimpin yang buruk atau anggota dewan yang buruk, pada gilirannya akan menentukan arah kebijakan yang buruk pula bagi pendidikan. Hasilnya, kualitas pendidikan menjadi semakin buruk, peserta didik yang dihasilkan buruk pula, apalagi ditambah dengan tenaga ajar dan didik yang tidak berkualitas. Jangan berharap lebih dari model pendidikan yang demikian.

Bagaimana kita bisa kritis terhadap setiap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat jika kita tidak paham tentangnya? Bagaimana mengharapkan Indonesia, yang katanya kaya, menjadi lebih baik dari saat ini, jika eksekutif, legislatif, dan yudikatif adalah orang bodoh yang tidak paham mengenai urusan publik (politik)?

Ketidaktahuan, kata Sokrates, adalah akar dari segala persoalan yang ada. Orang mencuri uang rakyat, itu karena dia ‘tidak tahu’ bahwa mencuri adalah jahat. Seandainya dia tahu dia tidak akan mencuri. Peran pendidikan di sini adalah mengajarkan orang yang tidak tahu menjadi tahu, lewat dialektika belajar-mengajar sebagaimana yang terjadi di dalam sekolah formal.

Namun, ketidaktahuan bahwa mencuri adalah jahat yang tidak disadari itu, diperparah dengan ketidaktahuan akan hakikat politik sebagai sarana perwujudan kesejahteraan rakyat (bonum commune). Dia tidak tahu akan kemampuannya, masuk dalam dunia politik dan dari keterbatasan itu harus berbicara mengenai bonum commune, hasilnya seperti Indonesia saat ini. Hidup dalam ketegangan miskin dan melarat, kecuali segelintir orang yang “tidak tahu” telah mencuri uang rakyat.

Melalui pendidikan, terutama dalam alam demokrasi, kita diharapkan bisa berpartisipasi secara kritis. Di sanalah terutama peran pendidikan. Dan pendidikan (politik) kian terasa penting ketika rakyat makin kritis terhadap pemerintah dan sadar bahwa mereka adalah subjek-subjek yang tidak bisa dimanipulasi seenak perut.

Pendidikan memang yang paling mendasar, hal itu tidak berarti bahwa kita kemudian mengabaikan unsur lain semisal politik. Keduanya saling terkait satu sama lain. Bahwa politisi yang baik lahir dari sistem pendidikan yang baik, demikian pun sistem pendidikan yang baik lahir pula dari kebijakan yang baik. Untuk mengubah sistem pendidikan yang buruk bukan tugas yang gampang. Bukan tugas satu orang saja. Tugas kita semua.

Sambil berjalan menyusuri jalan bebatuan di desa itu, seberkas harapan tiba-tiba membayangiku. Harapan akan Indonesia yang lebih baik belum pupus. Ada orang baik, meski sedikit, yang mau berkorban untuk kebaikan bersama. Ada orang baik yang mau turun kembali ke dalam goa untuk memproklamasikan kemerdekaan di luar sana, melepaskan diri dari kungkungan bayang-bayang. Dum spiro, spero. selama aku bernafas, aku berharap.

Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Komentar