Connect with us
Persephonee

Cerita

Persephonee: Kepergian Yang Terus Dikenang

Persephonee Norma Nefzger Banks. Demikian nama lengkap bocah perempuan berusia lima tahun, buah hati pasangan Chris dan Amee. Bersama kedua orang tuanya, Persephonee tinggal di Broocklyn Center, Minnesota (salah satu negara bagian Amerika Serikat).

Dalam kesehariannya, Paresephonee dikenal sebagai bocah yang aktif, periang, dan selalu menjadi penyemangat bagi kedua orang tuanya karena canda tawanya yang menggemaskan.

Persephonee begitu mencintai mainan dan video game. Dalam setiap pertemuan dengan banyak orang, ia selalu memberikan kebaikan yang luar biasa serta senyum dan keceriaan yang tidak sering ditemui pada banyak anak lain.

Bagi saya, Persephonee dan kedua orang tuanya, Amee dan Chris, menawarkan sebuah cerita inspiratif sekaligus merangsang permenungan yang dalam tentang bagaimana hidup dan kehidupan seharusnya diperjuangkan. Atau, lebih ekstrim lagi, bagaimana peristiwa kematian mesti dihadapi.

Saya mengetahui kisah inspiratif keluarga Banks ini pertama kali dari tayangan di sebuah televisi swasta beberapa waktu lalu. Tulisan sederhana ini adalah penulisan ulang tentang kisah yang saya saksikan di televisi itu. Adapun, tambahan informasi terkait kisah tersebut saya dapatkan dari internet.

Sebagaimana dikisahkan, kehidupan bahagia keluarga Banks tiba-tiba berubah. Kehidupan mereka memasuki episode baru, sebuah epsode yang tak mudah. Suatu ketika Persephonee mengeluh kepada ibunya, Amee, bahwa ia mengalami sesuatu yang aneh. Menurut dia ada yang tak biasa dengan pernafasannya, sesuatu yang sering membuat tubuhnya lemas.

Mendengar keluhan Persephonee, Amee spontan memberikan steroid (jenis hormon yang berguna untuk memulihkan kondisi tubuh). Amee berpikir, puterinya hanya menderita penyakit asma pada saluran pernapasan.

Beberapa hari setelah itu, ketika sedang bermain di rumah, Persephonee tiba-tiba jatuh pingsan dan tak sadarkan diri. Chris dan Amee panik dengan kondisi putri kesayangan mereka itu. Tanpa basa-basi, Persephonee langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Sembari menunggu hasil pemeriksaan medis, tanpa henti Chris dan Amee berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan putri kesayangan mereka. Meski demikian, kecemasan dan kepanikan tetap saja menyelimuti Chris dan Amee.

Dokter yang menangani Persephonee akhirnya keluar dari ruangan pemeriksaan dengan raut wajah yang datar tanpa ekspresi. Belum sempat menerima pertanyaan tentang kondisi Persephonee, dokter langsung mengajak Chris dan Amee ke ruangannya. Dokter itu pun dengan nada terbata-bata memberitahukan penyakit yang diderita Persephonne.

“Sesuai hasil pemeriksaan, Persephonee menderita infeksi… streptococcus,” kata dokter dengan dingin. Dokter itu melanjutkan, “Streptococcus adalah komplikasi radang tenggorokan yang disebabkan bakteri langka dan mematikan. Tragisnya, hidup pasien yang diketahui terserang streptococcus tidak akan lama lagi.”

Mendengar penjelasan itu, degup jantung Chris dan Amee nyaris berhenti. Keduanya shock dan tak sanggup mengungkapkan sepatah kata pun. Seisi ruangan sejenak membisu. Nasib Persephonee kini ada dalam ancaman maut. Butir-butir air mata mulai membasahi wajah Amee. Tak lama kemudian, tangis Amee pecah, sementara Chris tak henti merangkul dan menguatkannya.

Sambil terus menyimak, saya berharap sajian televisi malam itu tidak menghadirkan sebuah akhir yang buruk. Tak sudi rasanya menyaksikan hidup Persephonee begitu cepat berakhir. Narator terus menceritakan kisah itu, dan mata saya tak sekalipun lepas dari layar televisi untuk memastikan semua baik-baik saja. Namun, apa mau dikata, gadis mungil penuh senyum itu memang harus berakhir begitu cepat, di rumah sakit itu.

Beberapa jam sebelum menghembuskan nafas terakhir, Persephonee yang masih berusia lima tahun meninggalkan wasiat terakhir untuk kedua orang tuanya. Bukan pamit perpisahan yang keluar dari bibir mungilnya. Bukan ucapan selamat tinggal yang disampaikannya. Persephonee menghendaki organ tubuhnya hidup dalam diri orang lain. Dengan ikhlas ia mendonorkan ginjalnya untuk dua pasien yang sudah enam tahun menderita gagal ginjal.

“Bu, ikhlaskan aku hidup dalam diri mereka meski mereka bukan aku yang lahir dari rahim ibu. Aku ingin hidup, tapi mereka lebih membutuhkan aku untuk menyambung hidup. Ikhlaskan aku Ibu, relakan aku Ayah,” ungkap Persephonee dengan nada haru di hadapan kedua orang tuanya.

Bingung mau berkomentar apa ketika acara tersebut berakhir. Sedih, meski tak kecewa juga dengan kematian Persephonee. Setelah saya renungkan, kenapa kematian gadis belia dan menggemaskan itu mesti dilihat sebagai ending yang buruk? Si Mugil Persephonee sesungguhnya telah memberikan kekuatan bagi banyak orang yang menyimak ceritanya, termasuk saya sendiri, untuk terus menghargai dan memperjuangkan kehidupan.

Kekuatan cinta ayah dan kebanggaan ibu melebur dalam haru, Persephonne ingin terus hidup, meski dalam diri orang lain. Kehidupan terberi, meski teramat singkat. Cinta ayah dikenang sepanjang jalan, cinta ibu dikenang sepanjang waktu. Cinta Persephonne dikenang sepanjang hidup.

Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Cerita