Connect with us
Ayah

Cerita

Selintas Paul, Eks Tentara KNIL Tercinta

“Pasukan Jihad? Saya tak ada urusan dengan Jihad. Saya tak punya masalah dengan orang Muslim. Jadi, jangan suruh saya tinggalkan rumah saya. Kalau terpaksa, saya harus mati di rumah sendiri, bukan di kamp pengungsian,” kata Paul, bekas tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) yang tua dan sakit, ketika perang saudara sedang berkecamuk di Maluku.

Paul lahir 10 Oktober 1912 di Ngilngof, kampung di pantai barat Pulau Nuhuroa, Maluku Tenggara. Ayahnya, Bes, petani kelapa yang ulet. Dari hasil kopra, Bes menyekolahkan putra bungsunya di sekolah rakyat. Tak heran, Paul pandai baca-tulis dan cakap berbahasa Belanda.

Pada usia belasan tahun, Paul sudah bertualang. Ia berlayar ke Ambon, lalu ke Pulau Seram. Paul bekerja pada orang Tionghoa di Bula, Seram Timur. Kerjanya menimbang kopra, cengkih, dan pala yang dijual petani. Paul dapat upah dan menabung demi mimpi menjadi tentara.

Tahun 1939, Paul teken soldadu dan jadilah dia anggota pasukan tentara KNIL. Tugasnya di Sumatera. Daerah-daerah seperti Aceh Besar, Sigli, Lhokseumawe, Padang, Bukittinggi, Bangka-Belitung selalu dijejaki dan muncul dalam cerita-ceritanya.

Tahun 1942, Dai Nippon datang. Semua pasukan KNIL ditawan. Enam bulan lamanya Paul dan ratusan tentara KNIL mendekam di Penjara Besar Pematang Siantar. Penjara itu disebutnya sangat keji dengan segala jenis siksaan, dari minum air sabun di loyang, jempol ditindih kaki meja yang diduduki beberapa tentara. Untuk pelanggaran berat, bayonet dan samurai ringan sekali maka nyawa pun melayang.

Di penjara, Paul beruntung tidak sekalipun disiksa. Paul tak tahu mengapa selalu lolos siksaan, padahal dia juga kerap terlambat bangun pagi, terlambat masuk barisan, dan sebagainya.

“Saya andalkan doa. Saban hari berdoa rosario. Saya mohon tidak disiksa Jepang, tidak mati dalam penjara karena saya belum kawin,” kata Paul.

Di penjara, saban hari seluruh tawanan antri makan. Sehari hanya sekali makan. Tiap orang punya satu mangkok plastik. Ransum tawanan berupa sup dengan 15 butir jagung muda. Kalau sial, bisa cuma kebagian 10-13 butir.

Baru sebulan, para tentara kekar dan perkasa berubah kurus kerempeng. Paul dan kawan-kawan bertahan hidup dengan makan daun. Dengan batu mereka melempar pohon mangga yang tidak berbuah. Daun-daun jatuh dan tentara-tentara berebut memakannya dengan lahap. Sungguh seperti hewan herbivora.

Lain waktu, ada induk ayam dengan sepuluh anak baru menetas. Ayam itu milik pegawai penjara. Paul dan kawan-kawan berebut anak-anak ayam. Begitu tertangkap, lehernya langsung diputar. Bayi ayam langsung keok. Tentara-tentara membawa mangsanya ke kakus. Di sana mereka mencabut bulu-bulu ayam dan membuangnya dalam lubang kakus demi menghilangkan jejak. Daging mentah ayam muda ditelan beserta darahnya. Mereka seperti hewan karnifora.

Paul rileks saja melewati hari-hari di Penjara Besar Pematangsiantar. Dia baru berduka ketika kawan-kawan dekatnya asal Ambon, Kei, dan Tanimbar meninggal dalam penjara. Umumnya karena frustrasi memikirkan istri dan anak.

“Saya belum kawin jadi saya tidak pikir siapa-siapa,” terangnya.

Di penjara, hari-hari bergerak sangat lamban, monoton, dan penuh siksaan. Satu-satunya yang selalu baru adalah celana dalam. Seorang tentara Jepang setiap pagi membagikan celana dalam. Sebenarnya, ini celana dalam milik mereka juga, tapi karena dibagikan secara acak jadilah seperti baru. Ini berbahaya sekali sebab di dalam penjara berkembang penyakit menular. Kutu-kutu putih hidup di rambut-rambut kemaluan. Jadi, salah satu aktivitas dalam penjara adalah cari kutu. Ada yang mencari sendiri, ada yang mencari kutu di kemaluan kawannya.

Pernah seorang tentara Jepang datang di bangsal membaca sejumlah nama dari daftar yang dipegangnya. Semua yang dipanggil adalah kawan-kawan Paul satu angkatan masuk KNIL di Batugajah, Ambon. Meskipun namanya tak dipanggil, Paul nekat saja maju menuju mobil boks mengikuti kawan-kawannya. Si Jepang marah besar. Dia memukul Paul dengan popor senjata.

Punggung Paul kesakitan, tapi hatinya lebih sakit dan sedih karena tidak ikut bersama kawan-kawannya. Belakangan barulah Paul dapat kabar, kawan-kawan seangkatannya itu dibawa pergi ke satu tempat dan dieksekusi mati. Kubur mereka entah di mana.

Akhirnya, datang jua hari pembebasan. Paul meninggalkan penjara dengan celana karung dan mangkok makan. Ia pergi ke rumah di dekat Penjara Besar. Seorang perempuan menyambut dengan sayang. Perempuan itu menghidangkan nasi dan seekor ikan bakar besar. Paul melahapnya sambil mengingat kampung halaman di Maluku.

Setelah Indonesia merdeka, Paul kembali ke Ambon. Lantas, ketika Proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS) tahun 1950, banyak anggota KNIL mendua hati. Paul memilih bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia turut berdiri di pelabuhan dengan senapan siap menembak ketika pasukan TNI dipimpin Kawilarang datang. Saat itu, seragam TNI dan RMS tak bisa dibedakan. Ternyata, ketegangan di pelabuhan tidaklah lama. Dua pasukan saling kenal dan memberi isyarat bahwa mereka Merah Putih, bukan Benang Raja alias pasukan RMS.

Tahun 1951, banyak kawan-kawan Paul ke Belanda dengan duka dan karena paksaan perang. Paul tak ikut karena sudah pilih TNI. Selain itu, menurut Paul, KNIL itu penuh sukuisme. Orang Ambon-Lease bikin grup sendiri, orang Tenggara grup sendiri. Orang Ambon-Lease menganggap rendah orang Tenggara.

“Di tanah air sendiri saja sudah main suku. Kalau sampai di Belanda, nanti lebih soe lagi,” kata Paul.

Paul meminang Lies Maturbong, gadis pembantu perawat di Rumah Sakit Katolik Katlarat, Kei Besar. Setelah menikah, ia memboyong istri ke Ambon, Makassar, dan akhirnya ke Atapupu, di perbatasan Timor-Timur. Anak-anak Paul dan Lies lahir di Atambua. Tahun 1960, barulah Paul kembali ke Kei. Empat tahun kemudian dia pensiun dengan pangkat sersan mayor.

Setelah pensiun, Paul mengurus sesama pensiunan tentara. Ia menjadi Ketua Persatuan Pensiunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) Maluku Tenggara. Tubuhnya masih kuat dan ingin sekali menjadi petani.

Di Bacan Maluku Utara, ada tanah milik Kodam XV/Pattimura. Pada tahun 1975, Paul memboyong sejumlah pensiunan ke sana. Jadilah Proyek Resetlement Transmigrasi Angkatan Darat di Wayamega. Paul pun menjadi pemimpin di situ, semacam kepala kampung di pemukiman baru.

Paul bersama istri dan anak-anaknya menjadi warga Bacan. Mereka mencintai tanah dan penduduk Bacan. Mereka hidup dengan sesama orang Kei dan Manado di Wayamega, dengan orang Ambon di Labuha dan Babang, dengan orang asli Bacan di Amasing dan Mandaong, dengan orang Makian di Kampung Makian, dengan orang Sanger-Talaud di Tomori dan Tuakona, dengan orang Nusa Tenggara Timur di Penambuan, dengan orang Buton di Kupal, Tembal, dan Gandasuli.

Di Wayamega, Paul membuka kebun pisang dan coklat. Ia mendirikan rumah besar yang disebutnya sebagai rumah untuk semua orang. Paul membangun sekolah dasar, masjid, dan gereja. Ia bertahun-tahun berperan sebagai kepala kampung sampai anak-anaknya memprotes ke Markas Kodam di Batugajah. Panglima akhirnya membebaskan Paul dari jabatan kepala kampung.

Istri Paul meninggal tahun 1995 dan dikebumikan di Wayamega. Lima tahun kemudian, pecah kerusuhan di Maluku Utara. Paul mengurus orang-orang pergi mengungsi. Gelombang pengungsi terus berlangsung sampai akhirnya ada yang datang meminta Paul pergi mengungsi. Maklum Paul sudah tua, berusia 84 tahun, dan sedang didera sakit rematik.

“Kalau Pasukan Jihad datang, kami akan bergabung sebagai anggota jihad. Jadi sebaiknya bapa pergi mengungsi ke Manado. Di pelabuhan sekarang ada kapal gratis untuk pengungsi,” kata seorang Muslim Bacan yang datang ke rumah.

“Pasukan Jihad? Saya tak ada urusan dengan Jihad. Saya tak punya masalah dengan orang Muslim. Jadi, jangan suruh saya tinggalkan rumah saya. Kalau terpaksa, saya harus mati di rumah sendiri, bukan di kamp pengungsian,” kata Paul kepada orang yang mengajaknya mengungsi. Jawaban itu diberikan juga kepada anak-anaknya.

Pasukan jihad benar-benar datang. Hari itu 28 Januari 2000. Semua terjadi begitu saja seperti sebuah adegan yang harus dilakoni. Detik-detik itu, Paul dengan dua puterinya teramat dramatik. Pada 1 Februari, jenasah Paul dan dua puterinya diurus orang-orang Muslim yang dicintainya. Mereka memungut potongan-potongan tubuh yang terbakar. Ada bekas tembakan dan sayatan di sana-sini.

Saya menulis catatan ini sebagai kenangan pada Paul yang mati dengan caranya sendiri, 13 tahun lalu. Saya menghormatinya, walau dia sering memukul pantat saya dengan telapak tangannya yang kekar, karena menangkap basah saya mandi di laut tanpa izin semasa kecil di tepi Selat Rosenberg di Pulau Kei.

Saya mengenang Paul yang mengajarkan saya bergaul lintas suku dan agama. Rumahnya telah menjadi rumah segala suku dan segala bangsa. Siapa saja mau menumpang tinggal disambutnya dengan sukacita. Boleh sehari, dua hari, boleh berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan.

Saya menghormati Paul karena dialah yang pertama kali mengajarkan ABC dan 123. Dia yang mengajarkan doa-doa Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, doa Iman, doa Cinta, doa Pengharapan, doa kepada Santo Antonius dari Padua. Juga nyanyian-nyanyian rohani, pop, country, keroncong. Tak lupa, dialah inspirator dan motivator pertama yang mendorong saya menjadi penulis dan wartawan, profesi yang saya tekuni kini.

Di luar semua itu, saya mencintai Paul sebab dialah ayah kandung saya. Padanya saya berjanji menyediakan diri bagi semua orang, menjadi man for others. Paul mengajari saya seperti itu. Tidak dengan kata-kata, tetapi dengan tindakannya yang sangat nyata bertahun-tahun. Paul, oh, Paul. Paulus Fofid. Tubuhnya sudah jadi tanah. Jiwanya ada di negeri cahaya, saya percaya. Dia mungkin bukan sejarah sebuah bangsa. Tapi dia adalah kenangan. Sejarah bisa bungkam, kenangan tak bisa bisu.

Ambon, 1 Februari 2013

3 Komentar

Artikel Pilihan

Artikel Cerita